Tim Pawai Kebudayaan Pendidikan Sejarah

Atas : Loppias, Yudi, Roy, Adit, Suryo, Brurry | Bawah : Ade, Nova, Dimas, Ignatius, Cahyo, Yoshi

widget
Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

7 May 2013

Kita adalah juara!!!



Turnament futsal cewek yang diadakan oleh DPMU Unineversitas Sanata Dharma pada tahun 20013 memang banyak menyedot perhatian dari semua kalangan. Turnament futsal untuk dikalangan mahasiswa Sanata Dharma sebenarnya sudah sangat tidak asing, kegiatan seperti ini memang sering diadakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Turnament futsal yang diadakan oleh DPMU USD memang sangat istimewa karena mempertandingkan futsal cewek antar Prgogram Studi yang ada di Universitas Sanata Dharma. Turnament futsal cewek yang diadakan DPMU hampir semua Prodi mengikuti walaupun beberapa prodi tidak ikut ambil bagian dalam turnament ini. Prodi Pendidikan Sejarah adalah salah satu Prodi yang ikut ambil bagian dalam turnamnet DPMU CUP. Prodi Pendidikan Sejarah adalah Prodi yang tidak pernah absen dalam turnament-turnament yang ada di Universitas Sanata Dharma.
Pertandingan pertama untuk Pendidikan Sejarah pada hari kamis tanggal 2 mei 20013 melawan Prodi BK. Pada pertandingan pertama Pendidikan Sejarah mendapatkan kemenangan tipis atas BK, kemenangan ini berkat sumbangan gol dari Lea yang bersusah payah untuk mencetak gol. Kemenangan atas BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melaju ke babak semi final melawan Prodi Pendidikan Biologi. Dalam turnament kali ini pendidikan Sejarah diperkuat oleh pemain-pemain yang sangat bagus dan kualitasnya tidak jauh dengan pemain futsal cowok. Walaupun pemain banyak didominasi oleh pemian angkatan 2012 tetapi permainan sangat bagus dan terlihat sangat kompak. Khusnu, Desi, Tiara, Olive, Hetty, Grace, Detta, Lea, ini adalah pemein-pemain yang dengan penuh perjuangan mengharumkan Pendidikan Sejarah dan dengan pelatih Eric Suganda.
Kemenangan pertama melawan BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melangkah ke babak semi final melawan Pendidikan Biologi. Kemenangan ini tak bisa lepas dari dukungan suporter yang tiada henti selama pertandingan bernyayi untuk mendukung Pendidikan Sejarah. Dalam pertandingan semi final melawan pemdidikan Biololgi Yang dilaksanakan pada hari jumat 3 Mei 2013, Pndidikan Sejarahjuga meraih kemengan yang kedua kalinya dengan skor yang sangat fantastis yaitu 3-1. Gol kemenangan Pnedidikan Sejarah dicetak oleh Lea yang menyumbang 2 gol dan hetty menyumbang 1 gol. Kemenangan Pedidikan Sejarah melawan Pendidikan Biologi telah membawa Pendidikan Sejarah melaju ke babak final melawan Pendidikan Akutansi. Pendidikan Akutansi yang telah mengalahkan Pendidikan Fisika melaju ke final dan langsung berhadapan dengan Pendidikan Sejarah yang terlebih dahulu melaju ke final setelah mengalahkan Pendidikan Biologi.
Dalam pertandingan final yang dilaksanakan pada hari selasa 7 mei 2013 berlangsung sangat seru dan kedua tim saling menyerang untuk mencoba mencetak gol. Keramaian pertandinag final tidak hanya terjadi didalam lapangan, tetapi juga terjadi diluar lapangan. Suporter yang dtang jauh-jauh dari kampus mrican telah menambah keramian dalam pertandingan final DPMU CUP kali ini. Kedua suporter dari Pendidikan Sejarah yang mengerahkan semua mahasiswanya telah membuat keamanan bekerja ekstra keras guna menganmankan pertandingan final fursal cewek DPMU CUP. Dari pihak Pendidikan Akutansi juga tidak mau kalah dengan keramaian dan kekompakan yang dibuat oleh suporter Pendidikan Sejarah. Pendidikan Akutansi juga mengerahkan mahasiswa Pendidikan Akutansi utnuk mendudkung tim kebanggaanya. Untu suporter Pendidikan Sejarah mulai dari pertama turnament dimulai memang menjadi suporter yang paling ramai dan paling kompak dibandingkan dengan Prodi yang  lain.
Pertandingan final futsal cewek dimulai pada puku 19.00, dalam pertandingan final ini memnag telah banyak menyita perhatian dari kalangan mahasiswa USD. Babak pertama pertandingan masih berjalan kurang meriah, mungkin karena kedua tim masih belum menemukan irama permainan dan pertandingan babak pertama dititip dengan skor kaca mata atau 0-0. Waktu jeda yang sebentar sngat dimanfaatkan oleh tim PnedidikanSejarah untuk mengatur strategi guna menhancurkan pertahanan Pendidikan Akutansi yang cukup kuat. Lea yang dipasang didepan belum juga mampu menjebol pertahanan PAK, walaupaun dibantu oleh Olive, Desi, Tiara yang selalu menyuplai bola dari belakang. Saliang serang sering terjadi antara Pendidikan Sejarah dengan PAK walaupun kedua tim belum mampu menghasilkan gol sampai akhir babak kedua.
Hasil kaca mata sampai akhir babak kedua memang sangat mengecewakan untuk kedua tim. Sesuai dengan peraturan yang dubuat oleh panitia apabila terjadi skor seri maka dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Dalam adu tendangan penalti suasana lapangan futsal kampus paingan menjadi hening, penonton sesaat diam menyaksikan tendangan penalti untuk menentukan pemenang. Tendangan pertama dilakukan oleh PAK, tendangan pertama PAK berhasil ditahan oleh Khusnuk kiper dari PendidikanSejarah. Tendangan selamjutnya dilanjutkan dengan Pendidikan Sejarah yang dumulai oleh Desi sebagai penendang pertama. Tendangan pertama yang dilakukan oleh Desi tidak menghasilkan gol karena bola melesat jauh dari gawang. Tendangan selanjutnya dilakukan oleh PAK dan langsung dilanjutkan oleh Pendidikan Sejarah. Dari tendangan kedua PAK mereka berhasil mencetak gol sedangkan untuk Pendidikan Sejarah bola berhasi ditangkap oleh kiper dari PAK. Untuk kedua kalinya Pendidikan Sejarah harus kehilangan gol ditendangan kedua yang dilakukan oleh Oive. Untuk tendangan penentuan dpenendang terakir diawali oleh PAK. Dalam tendangan terakir PAK berhasil memasukan bola dan secara otomatis membawa PAK mejadi juara DPMU CUP dan Pendidikan Sejarah hanya mampu memperoleh juara dua.
Pendidikan Sejarah memang mendapat hasil yang kurang memuaskan dalam pertandingan final, namum semangat suporter yang diluar mampu menjadi penyemangat bagi para pemain yang merasa sngat kecewa atas kekalahannya. Suporter dari Pendidikan Sejarah tiada henti bernyanyi untuk mendukung teman-teman yang ada ditengah lapanga walaupun harus mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. “kita dipertandingan ini walau kalah tetapi saya merasa puas karena permainan kita sangat bagus” itulah kata-kata yang dikeluarkan oleh Olive untuk menyemangati teman-temannya supaya melupakan kekalahan. Walaupun Pendidikan Sejarah mengalami kekalahan namun semangat kalian di dalam dan di luara lapangan sudah sangat mencerminkan seorang juara sejati. “Juara bukan dibuktikan dengan kemenangan, tetapi juara dibuktikan dengan kerja keras kita tiada henti sampai titik penghabisan”.
“kalah menang gak peduli yang penting damai dihati”

FORZA HISTORYA”
HISTORY EDUCATION EST-1955

Penulis : Ignatius Yuliyanto Putro
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2011

19 Dec 2012

puisi-puisi Soe Hok Gie




Puisi-puisi Soe Hok Gie [Lengkap]
7 Votes
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Berikut adalah puisi-puisinya:
MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
====================================================
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969
====================================================
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973
====================================================
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)
Akhir perjalanan Soe:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.



So Hok Gie “Harus Menjadi Catatan dan Inspirasi Mahasiswa”




Berawal dari ketika saat saya ingin menonton video di youtobe, ketika itu saya ingin mencari tentang puisi romantis. Ternyata ada satu video tentang puisi terakhir karya “So Hok Gie”, sungguh luar biasa puisi itu begitu menyentuh akan kedalaman seorang pemuda yang mencintai kekasihnya. Akhirnya saya ingin kembali mereview kembali siapakah So Hok Gie? walaupun saya sering disuguhkan tentang artikel tentang beliau. Membaca berbagai artikel dari berbagai sumber membuat saya semakin penasaran dan akhirnya membeli buku karya Gie yaitu “Catatan Sang Demostran”. Buku itu sungguh menyayat hati saya sebagai seorang Mahasiswi yang sampai detik ini belum dapat memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Memang benar - benar menyedihkan.
Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana Gie berjuang membela kaum yang lemah, berbagai gagasan dalam tulisannya membuka bahkan membangunkan banyak pihak untuk sadar dari berbagai keadaan bangsa yang semakin terpuruk oleh kekuasaan politik yang tidak pro rakyat. dalm catatannya Gie juga menulis bagaimana kegundahaan hatinya memikirkan keadaan bangsa saat itu, ini sungguh luar biasa bagi saya, kalau saya liat catatatan harian saya semua berisi tentang kegalauan hati saya dan semua tentang saya. Sungguh sangat jauh sekali. Gie adalah orang yang kritis dan menjadi garda terdepan dalam membela keadilan. Gie juga tidak hanya menjadi sosok seorang yang sangat kritis dengan sikapnya yang sangat idealis tapi dia tetap menjadi seorang mahasiswa yang tetap suka melakukan hal - hal yang menyenangkan. Pada saat itu Gie dan kawan - kawannya membuat MAPALA UI karena ia sangat mencintai keindahan gunung, selain itu Gie juga adalah sosok pemuda yang sangat romantis dengan menuliskan beberapa puisi yang sangat mendalam contoh puisi cahaya bulan seperti yang saya kutip sebagai berikut :
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati

Inilah puisi yang membuat saya jatuh cinta pada sosoknya yang akan menjadi inspirasi bagi setiap mahasiswa.
Berikut adalah
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis.
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Dan dibawah ini merupakan karya dari beliau juga
Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan salah satu karya Soe Hok Gie tentang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan. Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam analisisnya hingga fakta sebagai “suatu yang suci” dalam bangunan sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat.
Di Bawah Lentera Merah adalah buku karangan Soe Hok Gie yang menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920-an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917-an.
So Hok Gie juga menjadi momen lahirnya demosntran, dan dia memang sosok yang harusnya menjadi inspirasi Mahasiswa, dan saya tetap optimis akan tetap lahir para Gie - gie yang mampu membawa perubahan dengan sejuta keberanian.
Hidup Mahasiswa,,,!!!
(A.R)


17 Jan 2012

Gaya Konsumtif Ala Wakil Rakyat Indonesia

“Sepertinya slogan bahwa wakil rakyat dapat dijadikan sebagai teladan, sebagai contoh bagi rakyat Indonesia mulai tak nampak lagi, ketika kelakuan- kelakuan elit- elit politik ini sudah dinilai terlalu berlebihan dan membawa pengaruh buruk bagi kemunduran bangsa Indonesia. Betapa tidak ketika permasalahan yang terjadi di daerah- daerah Indonesia, seperti kerusuhan di Mesuji, Lampung belum selesai, Tragedi kemanusiaan di Bima, NTB belum bisa diselesaikan kini bertambah lagi ketika wakil rakyat hanya bisa membuat masalah tanpa mau mempedulikan kondisi yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Sangatlah pantas ketika rakyat marah, rakyat berhak bersuara ketika muncul wacana dari Sekjen DPR untuk merenovasi Ruang Banggar Rapat dengan total anggaran 20 Milliar, belum lagi wacana sebelumnya tentang renovasi Toilet yang menghabiskan dana sebesar 2 Milliar yang mendapat kecaman dari masyarakat kecil di berbagai daerah di Indonesia yang menuntut kesejahteraan dan Reform Agraria tentang masalah kepimilikan tanah bagi para petani dan buruh perkebunan untuk pengelolaannya. Masih banyak tuntutan- tuntutan rakyat yang belum mau di dengar oleh para wakil rakyat yang merasa tuli mendengar keluhan- keluhan rakyat dan tidak mau melepaskan gaya Konsumtif mereka sebagai penguasa yang suka berbual dan mengumbar janji palsu kepada rakyat Indonesia…………..”

Wajah Bopeng Para Wakil Rakyat
            “Rezim yang dzalim sudah mengkhianati kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya, dan pemerintah yang terus membunuh rakyatnya dengan keji dan tanpa ampun”,  mungkin ini yang dapat digambarkan dari apa yang terjadi pada pemerintahan SBY- Boediono saat ini, ketika permasalahan demi permasalahan terus datang menghampiri Indonesia di masa pemerintahan SBY. Ketika melihat realita yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini, kemiskinan, ketidakberdayaan akan pendidikan bagi anak- anak yang ada di beberapa daerah di Indonesia, penanganan terhadap beberapa bencana alam yang terjadi menjelang terjadinya musim penghujan, kerusuhan-  kerusuhan di berbagai daerah yang mengisyaratkan kepada masyarakat bahwa rezim SBY- Boediono telah mendzalimi kesejahteraan rakyat Indonesia. Betapa tidak ketika wajah- wajah mereka yang tiada memiliki salah dan tidak tahu menahu tentang permasalahan- permasalahan yang terjadi di Tanah Air, seenaknya wakil rakyat di gedung DPR/MPR meminta sebuah fasilitas yang layak dan diperbaharui dengan tingkat kemewahan diatas rata- rata. Apakah mungkin dengan begitu kinerja wakil rakyat akan maksimal sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia, yang benar- benar berjuang dengan kesucian bagi perubahan Indonesia ke depannya, toh dengan kondisi yang seperti sekarang ini di Sidang Paripurna saja masih banyak wakil rakyat yang menambah libur setelah liburan panjang akhir tahun kemarin, sebagai dalih untuk membolos tidak mengikuti sidang, padahal sidang tersebut membicarakan tentang permasalahan rakyat Indonesia, tapi apalah daya, mereka yang telah mengimingi- imingi sebuah janji palsu kepada rakyat Indonesia, sebaiknya harus bertanggung jawab terhadap apa yang mereka suarakan kepada rakyat, agar rakyat tidak menganggap tanggung jawab yang sudah diberikan kepada wakil rakyat bukan sebuah tanggung jawab yang kecil dan dianggap sepele ketika pada realitanya wakil rakyatlah yang semestinya menjadi garda terdepan daripada kesejahteraan rakyat Indonesia.
            Menilik dari beberapa persoalan yang terjadi inilah dari etos kerja seorang wakil rakyat, yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat dan penyelenggaraan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, justru menimbulkan polemik ketika melihat kebijakan untuk merenovasi ruang banggar rapat DPR yang menghabiskan anggaran sebanyak 20 Milliar untuk keperluan tata ruangan dan pembelian beberapa perlengkapan pelengkap rapat bagi para wakil rakyat di gedung DPR/MPR. Bagaimana tidak miris keputusan atau kebijakan ini dikeluarkan ketika kondisi bangsa Indonesia masih dihantui beberapa permasalahan diberbagai daerah di Indonesia tentang keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia. Tentu pada kebijakan ini seluruh lapisan dan element masyarakat turut ambil bicara mengenai keterkaitan renovasi ruang banggar rapat para wakil rakyat ini, banyak yang bertanya sebegitukah konsumtifnya para wakil rakyat saat ini ketika tujuan mereka berada di kursi pemerintahan untuk menyejahterakan rakyat, tetapi kini yang sejahtera adalah mereka sendiri, seperti yang diketahui bahwa sebelumnya ada wacana untuk merenovasi toilet yang ada di gedung DPR/MPR, Senayan, yang menghabiskan anggaran dana sebanyak 2 Milliar, dibayangan masyarakat umumnya mungkin toilet ini sangatlah mewah dibandingkan toilet umum pada biasanya, tetapi apakah dengan kemewahan yang dimiliki dari fasilitas toilet 2 Milliar ini membangkitkan kinerja yang lebih baik dari para wakil rakyat sebagai penyambung lidah masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan keberadaan wacana untuk merenovasi ruang banggar rapat di gedung DPR/MPR, hal ini pun menuai banyak kontroversi dari yang menyoroti perihal gaya Konsumtif yang dimiliki oleh para wakil rakyat hingga jumlah anggaran yang dikeluarkan untuk pembiayaan renovasi ruang banggar yang baru. Sehingga masyarakat Indonesia pun menanyakan etos kerja yang dimiliki oleh para wakil rakyat, apakah selama ini sudah berjalan dengan semestinya.   
Perihal tentang tingkah laku Konsumtif dari para wakil rakyat ini Didi Syamsudin selaku ketua Departemen Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi ikut berkomentar terkait dengan anggaran renovasi banggar rapat yang mencapai 20 Milliar. “Harusnya disebutkan satu persatu itemnya, misalnya harga kursi, karpet, ac, wallpaper, TV dan sebagainya, sehingga ada transparasi dari keuangan yang dikucurkan oleh pemerintah Indonesia terhadap pengadaan fasilitas bagi wakil rakyat di gedung DPR/MPR(12/01/2012). Menuru Didi, sebagai anggota dewan dirinya sangat sulit untuk menjawab pertanyaan publik dan konstituen yang menanyakan anggaran renovasi tersebut, renovasi ruang rapat yang menelan anggaran hingga 20 Milliar dianggapnya sangat tidak wajar. “Kalau hanya sekedar renovasi ruangan kok sangat besar sekali, maka dari itu Sekjen DPR harus menjelaskan rinciannya agar publik tahu dan dapat menilai sendiri, terang anggota komisi III DPR ini.
Perlu adanya sebuah transparasi yang harus dilakukan oleh Sekjen DPR yang mengurusi perihal keterkaitan renovasi ruangan bahkan beberapa perihal yang terkait dengan perbaikan bangunan gedung wakil rakyat di Senayan, sehingga apa yang dibicarakan masyarakat mengenai wajah bopeng dari wakil rakyat saat ini ada benarnya ketika transparasi anggaran kebutuhan fasilitas yang menjadi sangat penting diperlihatkan kepada masyarakat, pada intinya bukan menjadi hal yang penting bagi Sekjen DPR untuk mengungkapkannya kepada masyarakat Indonesia, tentu saja ada sebuah permainan terselubung yang coba ditutupi mengenai pengeluaran anggaran sebesar itu untuk merenovasi ruangan beserta beberapa fasilitas lain yang terdapat di gedung DPR/MPR, dan hanya orang- orang yang berada diataslah yang mengetahui persoalan ini, salah satunya adalah Sekjen DPR, Nining IndraSaleh.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Dipo Alam selaku Sekertaris Kabinet dalam menyikapi permasalahan yang mempergunjingkan anggota wakil rakyat, menurutnya dari pihaknya siap memfasilitasi pimpinan DPR jika ingin mengganti Nining Indra Saleh dari jabatannya sebagai Sekjen DPR. “Kalau Sekjen DPR kurang menunjukkan kinerja politik yang bagus, DPR sering menjadi bulan- bulanan, oleh karena itu untuk memperbaiki citra buruk dari keberadaan DPR dan para wakil rakyat yang bernaung dibawahnya Dipo memberikan tawaran untuk memberikan usulan pengganti bagi Sekjen DPR yang baru”. “Ajukan saja penggantinya kepada Presiden, Seskab siap memfasilitasi”, kata Dipo (12/01/2012).           
Dari pernyataan Dipo inilah dilihat ada sebuah wacana yang digerakan oleh beberapa anggota DPR (wakil rakyat) untuk melakukan pergantian Sekjen yang baru sebagaimana terlihat dengan pemenuhan- pemenuhan fasilitas yang anggarannya melambung tinggi melebihi kewajaran dan sebagai wakil rakyat semestinya mereka memiliki kesadaran bahwa ini merupakan sebuah kinerja yang sangat menyimpang dan melanggar etos kerja para anggota DPR sebagai penyalura dan penyambung lidah rakyat kepada pemerintah pusat, maka usulan dari Dipo merupakan bagian pemecahan untuk segera menghentikan segala permainan yang terjadi dibelakang anggaran pemenuhan fasilitas anggota DPR.

Semestinya Mereka Malu!
            Menyikapi permasalahan yang terjadi dari gaya Konsumtif para wakil rakyat di pemerintahan, ada satu alasan yang mengapa perbaikan toilet dan banggar rapat para anggota wakil rakyat ini menjadi sebuah polemik yang selalu dibicarakan. Ketika ada suatu keluhan dari salah seorang anggota DPR dari komisi IX yang mengeluhkan tentang fasilitas toilet yang membuatnya basah kuyup ketika harus buang air di toilet Nusantara I tersebut, dan ketika diwawancarai oleh detiknews, anggota DPR ini menyampaikan unek- uneknya untuk merenovasi toilet agar lebih bersih dan lebih higienis, menurut dokter muda ini ia sangat mendambakan toilet yang beradab, toilet haruslah bersih dan bebas kotoran. Lalu yang menjadi pertanyaan ketika toilet bersih dan bebas kotoran apakah dengan begini kinerja dari para anggota DPR ini akan menjadi lebih baik kedepannya, bahkan ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa toilet di DPR terutama di gedung Nusantara I sudah baik, dan bersih mungkin hanya perlu dilakukan pembersihan secara berkala dan rutin agar lebih terlihat bersih, begitu kata Roy Suryo anggota DPR dari FPD.
            Berbicara tentang banyak suara- suara yang pro maupun kontra ini semestinya para anggota DPR yang katanya wakil rakyat ini, seharusnya mereka malu dengan kondisi yang ada saat ini, disaat mereka sedang sibuk mengurusi toilet yang kurang higienis, kurang bersih bahkan terkesan banyak kotoran, disatu sisi dalam berbagai bidang sendi kemasyarakatan di Indonesia masih perlu banyak dorongan dan kontribusi dari para wakil rakyat yang duduk di dalam kursi pemerintahan. Ketika membicarakan toilet yang anggarannya mencapai 2 Milliar, sungguh sangat miris ketika melihat anak- anak di SDN Tajur 7 harus bersekolah beratapkan atap- atap yang telah rapuh, bahkan sebagian besar kelasnya sudah tak layak pakai dan berbagai fasilitas yang ada di sekolah tersebut sudah tidak memenuhi kata layak. Ironis memang ketika para wakil rakyat ini menginginkan suatu yang lebih untuk menunjang kinerja mereka sebagai wakil rakyat, tetapi di satu sisi masih saja banyak anak- anak di berbagai daerah di Indonesia yang belum bisa sepenuhnya mendapat kemudahan untuk akses pendidikan yang lebih baik, apakah mungkin wakil rakyat menginginkan sebuah kemudahan, kenyamanan, dan ketentraman pada dirinya sendiri tanpa mempedulikan keadaan, kesejahteraan dan keamanan rakyat Indonesia, hal inilah yang menjadi pertimbangan penting kenapa wakil rakyat harus benar- benar menanggung malu akibat perbuatannya yang mendzalimi kewajibannya sendiri sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.
            Ketika melihat permasalahan yang terjadi di SDN Tajur 7 hampir sama yang dialami dengan keberpihakan para anggota DPR kepada produk- produk luar negeri yang lebih terjamin kualitasnya dibandingkan dengan produk dalam negeri yang dicipatakan oleh para putra- putri bangsa Indonesia sendiri dan menjadi sebuah kebanggan dalam prestasinya untuk menciptakan produksi dalam negeri yang berkualitas. Seperti yang dialami oleh produksi mobil dari anak- anak SMK di kota Solo yang berhasil menghasilkan mobil Kiat Esemka dan kemudian diapresiasi dengan baik oleh pemerintahan kota Surakarta yang langsung memakai mobil buatan anak- anak negeri ini sebagai kendaraan pribadinya, namun ketika prestasi ini disampaikan kepada pemerintah pusat salah satunya adalah anggota DPR, banyak yang tidak memberikan apresiasi positif terhadap keberadaan mobil Kiat Esemka ini bahkan dari beberapa menteri dan anggota DPR yang mendengar kabar ini meragukan tentang unsur- unsur keselamatan yang ada pada mobil Kiat Esemka ini. Dengan adanya hal ini pemerintah secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk berpikir negatif  terhadap hasil karya anak bangsa, hasil produksi dalam negeri, bahkan lebih terkesan pesimis terhadap perkembangan mobil Kiat Esemka ini kedepannya. Hal ini menjadi permasalahan penting ketika para wakil rakyat lebih memilih produksi yang terjamin mutunya dan lebih mahal harganya dari produksi lokal untuk memenuhi hasrat Konsumtivisme dibandingkan harus  benar- benar berpihak pada masyarakat yang memiliki sejuta kreativitas dalam menciptakan suatu bentuk lapangan kerja baru dan keuntungan bagi negara, semestinya mereka malu akan keadaan ini, borok yang coba ditutup- tutupi dengan berbagai alasan demi kepentingan rakyat!!!...........
            Dua permasalahan yang dibahas diatas hanya sebuah segelintir fakta yang memang terbukti tentang kapasitas dari para anggota DPR yang sudah mulai tidak memiliki keberpihakan terhadap perubahan bangsa dan masyarakat Indonesia, semestinya mereka menjadi orang- orang yang paling tidak dapat hidup nyaman karena telah mendzalimi tugas beserta tanggung jawabnya sebagai penyambung lidah rakyat seperti janji- janjinya dulu.

Pejabat yang Tidak Loyal Sebaiknya Dipecat Saja!!!
            Betul saja dengan apa yang dibicarakan oleh banyak orang, keberadaan pejabat yang sering duduk diruang sidang, atau bahkan sering membolos dari sidang paripurna, dengan pakaian rapi, “bak seorang intelektual muda tapi kelakuan bak orang tidak berpendidikan”, duduk diruang dingin ber-ac, dengan jamuan makan yang cukup mewah, dan fasilitas penunjang Sidang dengan menggunakan teknologi yang cukup canggih, namun apa yang mereka alami semestinya sama yang dialami oleh rakyat Indonesia saat ini diberbagai pelosok daerah, yang mengalami konflik, keterbatasan akses pendidikan, bencana alam, kurangnya jaringan listrik untuk masuk kedaerahnya, tapi apalah daya, rakyat hanya bisa berpasrah dan terus berharap tanpa ada kepastian dari pemerintah yang suka berleha- leha di kursi kebesarannya.
            Melihat pola Konsumtif yang begitu menjijikan dari para anggota DPR semakin mengisyaratkan sudah tidak ada harapan lagi bagi rakyat Indonesia untuk benar- benar menerima realisasi dari janji- janji para anggota DPR ini, bahkan para wakil rakyat ini pun memiliki dalih pemanfaatan fasilitas yang berada di gedung DPR/MPR ini semata- mata untuk perubahan dan kepentingan masyarakat Indonesia. “jika memang tidak loyal lakukan pemecatan segera dan ketua DPR selaku pemimpin tertinggi bagi para wakil rakyat, semestinya dapat bertindak tegas dengan keadaan ini dengan membicarakan permasalahan yang terjadi pada tingkat anggota dewan kepada Presiden ataupun MPR sebagai lembaga yang bekerjasama dalam melakukan perubahan bagi Indonesia. Hal yang sangat keras dikatakan oleh Ketua DPR, yang mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu mengetahui bahwa banggar rapat anggota DPR sudah selesai di renovasi dan menghabiskan anggaran hingga sampai 20 Milliar, hal ini sangat mengejutkan dirinya, dan akan segera memanggil Nining Indra Saleh perihal anggaran yang sangat fantastis tersebut, pihaknya akan segera melakukan pemecatan kepada Nining yang bermilliar- milliard menghabiskan uang anggaran untuk keperluan fasilitas yang semestinya tidak menghabiskan dana sebanyak itu. harapan yang kedepan segera ada pergantian sekjen DPR agar segala keperluan yang berkaitan dengan keperluan anggota dewan dapat segera di transparasikan dan tidak perlu hingga menghambur- hamburkan dana yang sangat fantastis hanya untuk melengkapi fasilitas agar terlihat mewah.
            Dalam hal ini semoga kedepannya menjadi sebuah pelajaran yang sungguh- sungguh menguji mental para anggota DPR yang rasa- rasanya sudah mulai kurang dicintai dan diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, ketika nama wakil rakyat hanya menjadi icon yang hanya bisa menghabiskan uang negara tanpa menjadi penyambung aspirasi masyarakat Indonesia, Nining sebenarnya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini terkait dengan penggunaan dana renovasi hingga bermilliar- milliard untuk sekedar mengganti fasilitas mewah di dalam gedung DPR/MPR, bisa- bisa nanti gedung DPR/MPR bukan menjadi gedung rakyat lagi melainkan gedung tempat para orang kaya berkumpul yang tentunya tidak memiliki otak sebagaimana mestinya seorang intelektual dapat mampu berpikir dan  pemimpin jalannya pemerintahan Indonesia. Daripada nasib rakyat semakin sengsara, sebaiknya segera lakukan pemecatan kepada anggota DPR yang sudah tidak loyal dalam bekerja kalau perlu memang terjadi kejanggalan, pengusutan dan transparasi secara tuntas yang harus dijalankan, agar tidak muncul kembali orang- orang pintar palsu yang menindas rakyatnya sendiri. 

Masih Ada Memperhatikan dan Mengayomi Masyarakat
            Ditengah kejamnya politik yang dijalankan oleh orang- orang yang berada di gedung kerakyatan ternyata masih saja ada bagian dari anggota DPR yang masih benar- benar berjuang demi perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kesejahteraan sosial, namun ditengah kontroversial masalah- masalah yang selalu dibuat oleh para wakil rakyat ini tak sedikit juga mereka yang berada di kursi dewan legislatif ini, banyak yang mengundurkan diri, karena aura kepalsuan yang selalu ditebar oleh para wakil rakyat di Senayan ini. “Ngakunya bukan Koruptor, toh ternyata masih saja ada skandal- skandal terselubung dibalik proyek yang dijalankan pemerintah”. Selain tidak kuat dalam menghadapi permainan- permainan kotor, anggota DPR yang mengundurkan diri pun sebenarnya tidak mau masuk dalam perangkap dari permainan para anggota dewan yang memiliki skandal terselubung terkait pendanaan uang negara, dan proyek- proyek pemerintah untuk pemanfaatan perkembangan masyarakat Indonesia di beberapa daerah. Di balik itu semua ada beberapa tokoh yang juga berada di pemerintahan yang masih benar- benar memperjuangkan apa yang dimau oleh rakyat dan apa yang diingini oleh rakyat, salah satunya anggota DPR yang cukup vocal dalam memperjuangkan RUU BPJS, Rieke Diah Pitaloka yang benar- benar merupakan sosok dari banyaknya anggota dewan yang masih benar- benar menjalankan etos kerjanya sebagai wakil rakyat dengan baik, bahkan kapan pun rakyat membutuhkan dirinya siap mengadvokasi perihal tentang ditetapkan RUU BPJS bagi rakyat yang kurang mampu dan berada dibawah garis kemiskinan.
            Berbeda dengan apa yang dialami oleh Rieke tentu sangat jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Joko Widodo Walikota Surakarta yang benar- benar dipandang masyarakat Surakarta sebagai tokoh yang benar- benar mengayomi wong cilik beserta kebudayaan yang ada di kota Surakarta. Dapat dilihat dengan berhasilnya Joko Widodo sebagai Walikota Surakarta dalam memberikan pandangan positif bagi para Satpol- PP yang selalu bertindak kasar kepada para pedagang kaki lima dalam proses penertiban untuk direlokasi, tentu sangat berbeda yang dilakukan oleh Joko Widodo yang melakukan pendekatan kemanusiaan kepada para pedagang kaki lima di kota Surakarta. Sehingga dengan saling berdialog dan tidak ada batasan antara pemimpin dan rakyatnya membuat para pedagang pun sama sekali tidak melakukan perlawanan yang anarkis kepada petugas Satpol- PP, melainkan kedekatan dan kehangatan yang selalu terjaga ketika antara pedagang kaki lima dan pemerintah terwujud suatu rasa kepercayaan, dan disinilah sosok pemimpin yang sebenarnya, mampu mengayomi, memanusiakan sesamanya, dan bertindak secara nyata, tentunya sangat inspiratif dan perlu dicontoh oleh para wakil rakyat yang sukanya hanya memperkaya diri, tetapi mengecilkan hati, bahkan suka- suka berlagak sok pintar tanpa ada tindakan apa- apa.
            Ternyata apa yang dialami tentang gonjang- ganjing permasalahan anggaran renovasi toilet dan renovasi ruang banggar rapat hingga menghabiskan dana bermilliar- milliard, dapat terobati dengan sebuah tindakan nyata yang dilakukan beberapa pemimpin di daerah ataupun beberapa anggota DPR yang masih benar- benar ingin menjadi penyambung lidah rakyat yang sesungguhnya, sehingga bangsa Indonesia memperoleh sosok seorang pemimpin yang benar- benar berpihak kepada wong cilik, dan masih ada harapan untuk Indonesia lebih baik kedepannya.


Gaya Konsumtif Wakil Rakyat di Gedung Kerakyatan
            Indonesia termasuk salah satu negara yang mencoba untuk masuk dalam arus pasar Global dengan politik pasar terbuka membuat segala pengaruh budaya- budaya asing sangatlah mudah masuk ke Indonesia. Perubahan perkembangan zaman dengan mulai masuknya budaya asing dengan mengenalkan produk- produk dari luar negeri yang kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan produksi dalam negeri. Sama halnya ketika melihat para wakil rakyat yang juga masuk dalam pengaruh arus pasar bebas. Secara tidak langsung wakil rakyat mencoba mengikuti perkembangan arus global yang masih sangat premature ketika perkembangan produk- produk dalam negeri dan ekonomi Indonesia yang masih jauh melebihi batas dalam perkembangan produk- produk luar negeri tetapi secara tidak langsung para wakil rakyat tetap saja lebih memilih untuk membeli produk- produk asing dengan harga yang lebih mahal dan kualitas yang lebih baik pula dibandingkan dengan barang- barang produksi dalam negeri. Gaya konsumtif yang berorientasi pada pasar bebas ini sebenarnya merupakan warisan dari pemerintahan era orde baru yang mulai memproduksi barang- barang asing di dalam Indonesia, salah satunya yang masih dapat dilihat saat ini adalah kendaraan bermotor yang makin diminati oleh sebagian lapisan masyarakat Indonesia. Sebenarnya pengaruh dari gaya konsumtif ini pun juga tidak sepenuhnya dapat dihilangkan karena bagaimana pun arus pasar global sudah lama masuk ke Indonesia, sehingga pengaruhnya pun lebih mendominasi ketika ingin mengembangkan barang- barang produksi dalam negeri hasil karya anak negeri sendiri.
            Melihat pengaruh arus pasar bebas ini  tidak sepenuhnya wakil rakyat menjadi sorotan dari public karena pengaruh dari dorongan gaya konsumtif ini sudah merasuk bahkan mendarah daging dari para generasi muda Indonesia bahkan hampir masuk keseluruh lapisan masyarakat Indonesia, sehingga sangatlah wajar ketika banyak pemanfaatan barang- barang IT lebih beralih kepada barang- barang produksi luar negeri, bahkan tidak hanya dalam produksi IT yang lebih mengandalkan produksi luar negeri melainkan produksi- produksi sembako sekalipun sudah mulai mengandalkan produksi asing yang di import ke Indonesia, sungguh miris memang ketika janji dari pemerintah untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan namun masih saja barang- barang kebutuhan pokok, seperti beras dan sayur mayor masih mengandalkan produksi dalam negeri yang akhirnya membuat petani harus memutar otak agar tetap tidak merugi akbiat monopoli perdagangan yang dilakukan oleh pihak asing. Dengan begini Indonesia hanya menjadi negara yang tergantung dari keberadaan negara- negara lain, dengan mengandalkan produksi- produksi asing yang semakin membuat rakyat kecil kehilangan orientasi perekonomiaannya, semestinya sebagai wakil rakyat harus mampu memberikan solusi dari semakin berkembangnya arus pasar bebas yang semakin menggila ini, jangan sampai terleha masuk ke dalam pengaruh dari arus perdagangan bebas, gaya konsumerisme yang berlebihan dengan barang- barang hasil produksi asing membuat Indonesia kembali kehilangan orientasi perekonomiaannya, karena hanya dapat dikendalikan oleh negara- negara investor yang memproduksi barang- barang asing dari luar Indonesia. Tidak usah perlu membeli barang- barang untuk fasilitas di gedung DPR/MPR dengan barang- barang produksi dari luar negeri, hingga bermilliar- milliard, perhatikanlah rakyat yang masih berjuang keras dalam hal pendidikan, kesejahteraan sosial, dan ekonominya, sebaiknya wakil rakyat bisa tetap pada pendiriannya bukan hanya sekedar ikut arus gaya konsumtif pasar bebas yang berorientasi pada perdagangan kaum kapitalis yang semakin memeras rakyat dan menindas rakyat, “Indonesia bisa berkembang dengan ekonomi Kerakyatannya, tanpa harus mengandalkan Pasar Bebas sebagai orientasi ekonomi kerakyatan” ini impian Soekarno pada bangsa Indonesia pada masa pemerintahannya dulu sebelum masuknya pengaruh pasar bebas pada era orde baru, dapatkah wakil rakyat mewujudkan apa yang di cita- citakan oleh para Founder bangsa Indonesia, ataukah hanya tetap menjadi pembawa masalah bagi rakyat? Harapan lebih baik bagi Indonesia kedepannya dan para wakil rakyatnya.
Disusun oleh; Angga Riyon Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma
(http://www.detiknews.com “Sekjen DPR Diminta Buka Rincian Anggaran Ruang Renovasi Banggar DPR”)

11 Jan 2012

Anak- anak Indonesia dan Ketidakadilan

 “ANAK- ANAK  PENJUAL KORAN DAN SEKOLAH BILIK BAMBU”
( Sebuah Cerpen Tentang Kehidupan Anak- anak Penjual Koran Dalam Meraih Pendidikan yang Layak)

Hari ini seperti biasa aku sebagai seorang Guru bersiap- siap memulai aktivitasku sebagai seorang pengajar. Dengan hati senang karena segera bertemu dengan anak- anak muridku, kukayuh sepeda onthelku dari kost- kostanku berjalan melewati setiap jalanan protokol di kota Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju sekolah aku melihat beberapa anak- anak penjual Koran yang berada disepanjang perempatan lampu merah gedung kantor pos lama, ya memang sekolah tempatku mengajar tidak jauh dari perempatan gedung kantor pos lama. Melihat beberapa anak- anak penjual Koran ini membuat hatiku sebagai seorang pengajar merasa terenyuh. Sempat terpikir di dalam hatiku siapa orang tua mereka yang sampai tega menyuruh anaknya bejualan Koran dipinggir jalan, yang semestinya mereka dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah, tetapi malah berjualan Koran di pinggir jalan, memang sungguh sangat miris sekali melihat perkembangan pendidikan anak- anak Indonesia pada saat ini, begitulah yang sempat terpikir dalam benakku sejenak ketika aku melihat anak- anak penjual Koran itu.
Setelah mengamati mereka dari jauh tiba- tiba salah satu dari beberapa anak penjual Koran tersebut menghampiri aku, dengan wajah kusut dan kusam anak ini menawarkan korannya kepadaku “beli korannya Om” lalu aku menjawab, “ya beli satu dek”, sambil menunggu lampu merah yang macet karena pagi itu jalan perempatan kantor pos benar- benar padat. Lalu aku memberikan secarik uang kertas ribuan kepada anak penjual Koran tersebut.    Setelah melihat- lihat Koran dan berita yang ada di halaman pertama Koran tersebut, betapa terkejutnya aku ternyata masih ada sebagian atau hampir setengah dari rakyat miskin tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak dari pemerintah. Dan ada beberapa berita yang aku lihat di dalam Koran tersebut yang membahas tentang isu- isu kerakyataan, seperti kenaikan Tarif Dasar Listrik yang semakin membunuh rakyat bahkan sampai berita tentang kelayakan upah buruh, jika aku melihat dan merenung sejenak sungguh “Miris sekali” di negara indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alamnya ini ternyata masih ada rakyat yang menderita, bahkan sangat- sangat tidak berkecukupan. Terdiam dalam lamunan dan renungkanku aku tersadar bahwa jalan perempatan kantor pos lama sudah mulai lancar kembali dan aku kembali mengayuh sepeda onthelku menuju kesekolah untuk mengajar.
Sesampainya di sekolah aku pun mulai merenungkan apa yang ku alami tadi pagi dengan melihat realita yang ada saat ini tentang nasib rakyat yang mulai terbelakang dan pemerintah yang semakin memperkaya diri dengan hasil keringat rakyat, sungguh miris, lagi- lagi kuulangi kata- kata yang tidak menenangkan hatiku ini. Dalam hatiku sebenarnya tidak tega melihat nasib anak- anak penjual koran tadi yang harus mengais rejeki di tengah kemewahan dan kekayaan pemerintah itu sendiri, lalu aku berpikir sejenak di sela- sela istirahatku mengajar aku mencoba menyendiri di ruang guru untuk merenungkan kembali, apa yang harus ku lakukan dengan kondisi rakyat saat ini. Aku pun mempunyai ide untuk membuat sebuah sekolah rakyat yang memotivasikan rakyat untuk mendapat pendidikan yang layak tanpa harus melibatkan campur tangan pemerintah yang otoriter dan semena- mena terhadap rakyat kecil. Tanpa tersadar bel masuk pun berdering, dan aku pun harus segera kembali mengajar, dan aku berlalu menuju kelas untuk mengajar sambil memikirkan tentang konsep sekolah rakyat yang akan aku buat nantinya.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12.00 WIB dan tugas mengajarku disekolah telah usai. Aku bersiap- siap mengayuh sepeda onthelku kembali menuju rumah kost- kostan ku. Dalam perjalanan kembali aku melewati perempatan kantor pos lama dan aku berhenti sejenak di dekat benteng vredeburg untuk melepas lelah setelah mengayuh sepeda sekitar 5 Km dari daerah Jalan bantul. Dalam istirahatku melepas lelah tiba- tiba ada dua sosok yang membuyarkan lamunanku saat melepas lelah. “om- om” sambil memegang lengan kananku kedua anak ini mencoba menegurku yang sedang beristirahat. Ia ada apa dek? Sapaku kepada kedua anak tersebut. Ini om, kami berdua yang menjual koran tadi pagi itu om, “e’hm oh ya hampir saja om lupa” “jangan panggil om lah dek”, panggil mas Ditro aja, nama adik berdua ini siapa? “Kalau saya Bowo mas, nah teman saya ini namanya Amien, kita berdua ini jauh- jauh jualan koran dari bantul, lho mas”, memangnya orang tua kalian kerja jadi apa di bantul dek? “kedua orang tua kami kerjanya jadi buruh di daerah Kasihan mas, “oh ya mas Ditro rumahnya dimana? Kerja jadi apa mas? Kayanya tadi pagi buru- buru banget mas” , rumahku jauh dek di daerah jalan bantul dekat dengan gereja pugeran itu lho dek! Ya, tempatnya kecil sih, dek maklum mas Ditro cuma ngekost, bapak dan ibu mas Ditro sudah lama meninggal dek, ya jadi mas Ditro sekarang hidup mandiri sendiri. Mau main ketempat mas Ditro ndak dek, nanti mas ajari pelajaran- pelajaran yang ada di sekolah. Spontan aku pun mencoba mengajak kedua anak penjual koran ini untuk main ke kost- kostanku. “Mau banget mas”, jawab Bowo dan Amien dengan lantang kepadaku, “ya sudah, kalau begitu sini boncengan naik sepeda aja ya” kami bertiga berboncengan naik sepeda onthelku, si Amien duduk di depan sedangkan si Bowo berbonceng di belakang. Panas semakin menyengat tubuh, di siang ini, tidak terasa aku dan anak- anak penjual koran sudah sampai di depan kost- kostanku. “ini lho dek  kost- kostannya mas Ditro, ya biarpun kecil, tapi kalian jangan sungkan- sungkan ya, anggap aja kaya rumah sendiri”, “Ia mas Ditro, jawab Amien dan Bowo secara serentak”. Aku pun pergi ke belakang membuatkan minum untuk Amien dan Bowo, kasihan mereka berdua pasti kelelahan dan haus setelah seharian berjualan koran di pinggir jalan. Sambil menyugguhkan dua gelas es teh, aku pun ,melanjutkan obrolanku dengan Amien dan Bowo. Obrolan pun semakin akrab dan aku mencoba mengutarakan tentang gambaran sekolah bilik bambu bagi anak- anak jalanan yang lain. Dan ternyata Amien dan Bowo sangat senang jika aku mendirikan sekolah bilik bambu untuk anak- anak jalanan yang lain. “ia mas kami seneng banget kalau bisa sekolah lagi, nanti kami ajak temen- temen kami yang ada di deket malioboro sama yang ada di bantul buat ikut belajar di sekolahnya mas Ditro”.
Betapa senangnya aku melihat semangat belajar dari kedua anak jalanan ini, walaupun usia mereka berdua belum genap 10 tahun tetapi semangat mereka untuk memajukan pendidikan bagi rakyat kecil dapat memotivasiku untuk mendirikan sekolah bilik bambu ini. “okelah kalau begitu dek, kalian berdua ajak teman- teman kalian semua ya dek, nanti untuk soal tempat dan persiapannya mas Ditro aja yang ngurus, mungkin mas mau ijin dengan pak Rt dulu untuk menentukan tempat dimana dapat didirikan sekolah bilik bambu itu, ya dek”. Tanpa terasa sore hari telah menjelang, dan raja siang pun ingin kembali keperaduannya, dan aku bertanya kepada Amien dan Bowo, “dek kalian mau mas antarkan pulang atau mau tidur disini dek? Antar pulang aja mas Ditro kami sudah dua hari ndak pulang je, ya sudah yuk mas antar pulang ke bantul, nanti ndak keburu malam dek”.
Menjelang malam hari aku, Bowo dan Amien tiba di bantul. Setibanya di rumah orang tua Amien dan Bowo, aku mencoba mengutarakan tentang pendirian sekolah Bilik Bambu bagi anak- anak jalanan dan anak- anak buruh di daerah Bantul. Dan kedua orang tua Amien dan Bowo pun setuju dengan pendirian sekolah Bilik Bambu bagi anak- anak yang kurang mampu di daerah Bantul dan sekitar kota Yogyakarta. Karena waktu sudah larut malam, aku pun berpamitan kepada orang tua Amien dan Bowo untuk kembali pulang. Dalam perajalanan pulang, aku semakin bersemangat untuk segera merealisasikan pendirian sekolah rakyat dengan sebutan sekolah “Bilik Bambu” ini.
Keesokan harinya aku seperti biasa melanjutkan aktivitasku mengajar dan setelah pulang mengajar aku mencoba merealisasikan konsep tentang sekolah Bilik Bambu yang telah kurencanakan dengan Amien dan Bowo setelah mencari tempat yang cocok untuk mendirikan sekolah kami bertiga pun meminta ijin kepada ketua Rt setempat untuk menyewa tempat tersebut untuk dijadikan sebuah sekolah rakyat untuk anak- anak buruh di Bantul dan anak- anak jalanan di kota Yogyakarta. Dan pak Rt daerah kasihan, Bantul sangat mendukung dengan konsep sekolah rakyat yang ingin aku buat dan dengan Cuma- cuma, pak Rt dan seluruh warga kasihan menyumbangkan tanah tersebut untuk didirikan sekolah rakyat. Sangat senang sekali hatiku bahwa ternyata masih banyak orang yang masih mendapatkan ketidakadilan dari pemerintah terutama dalam pendidikan bagi rakyat miskin. Sungguh hal yang sangat miris sekali aku lihat di negara ini yang sangat kaya sekali dengan berbagai sumber daya alam yang dapat di ekploitasi dengan begitu besar, ternyata sebagian besar masyarakat belum dapat merasakan kekayaan yang ada di indonesia ini, terutama dalam hal pemerhati pendidikan, ya memang peran pemerintah dalam mencerdaskan generasi muda sangat penting, hampir 32 tahun bangsa ini dibodohi dengan keotoriteran pemerintahan Soeharto yang semena- mena, hampir setengah abad kita dijajah oleh Belanda dan di ambil kekayaannya oleh pihak VOC. Kapan lagi bangsa ini ingin maju jika bukan dari generasi mudanya sebagai generasi penerus bangsa. Dan dengan terealisasinya sekolah Bilik Bambu ini dapat mengetuk hati pemerintah yang telah lama mati suri oleh segala kekayaan yang telah dimiliki pemerintah yang sebagian kekayaan tersebut adalah milik rakyat miskin di Indonesia. Sehingga sekolah rakyat yang akan ku bangun ini adalah sebuah bentuk tindakan praksis dari setiap kegundahan rakyat Indonesia terutama dalam bidang pendidikan murah bagi rakyat kecil.
Setelah segala persiapannya selesai, akhirnya tiba hari yang ku tunggu- tunggu. yaitu dimana sekolah Bilik Bambuku dapat teralisasikan. Hari itu hari sabtu, dimana merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Amien dan Bowo, bukan! Tidak hanya Amien dan Bowo yang berbahagia melainkan seluruh anak jalanan dan anak- anak buruh di sekitar kota Yogyakarta yang dapat merasakan kelayakan hidup dengan adanya sekolah Bilik Bambu yang bersifat pro rakyat kecil.
Hari pertama berdirinya sekolah Bilik Bambu di dusun Brajan, Bantul, membuat Amien dan Bowo beserta puluhan anak- anak jalanan yang lain semakin bersemangat untuk belajar dan menimba ilmu, meskipun bukan di taraf sekolah formal, tapi semangat anak- anak jalanan ini menjadi sebuah semangat tersendiri bagiku. Aku mulai mengajar berhitung matematika dengan anak- anak jalanan yang masih kelas satu SD, dan bahasa Inggris kepada anak- anak kelas empat SD. Amien dan Bowo mulai bertanya tentang perhitungan penambahan dan pengurangan karena Bowo dan Amien sebenarnya masih duduk di kelas dua dan kelas tiga SD. Tentu saja pendirian sekolah Bilik Bambu ini tidak lepas dengan bantuan- bantuan dari teman- teman seperjuanganku, yang juga mengajar di sekolah lamaku, seperti Adi, Iman, Emil, yang juga dulu adalah teman- teman kuliahku di perguruan tinggi. Mereka memliki satu tujuan yang sama sepertiku, yang ingin memajukan rakyat melalui pendidikan yang bersifat pro rakyat. Dari sinilah aku dan seluruh teman- teman mulai berharap resistensi pendidikan ini dapat berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh masyarakat.
“Mas Ditro kok bisa ya mobil dan motor itu bisa bergerak, Tanya salah satu anak jalanan kepadaku”. “Lalu aku menjawab, oh ya dek begini lho, mobil dan motor dapat bergerak karena adanya pengaruh gaya dari tekanan bahan bakar minyak yang terdapat di dalam mobil dan motor tersebut, yang melakukan proses filerisasi dan pembuangan yang menimbulkan sebuah gaya gerak”. Begitu jawabku kepada salah satu muridku, yang merupakan salah satu teman dari Bowo dan Amien pada saat mengajar mata pelajaran IPA, tentang gaya gerak. Sungguh menyenangkan melihat anak- anak di daerah Kasihan ini mulai menapaki dunia pendidikan kembali, terutama kepada anak- anak yang ada di sekitar kota Yogyakarta, yang disinyalir sangat kurang terperhatikan oleh pemerintah Yogyakarta. Besar harapan banyak generasi penerusku nanti yang mau meneruskan sekolah Bilik Bambuku ini, untuk menciptakan sebuah pendidikan yang pro rakyat dan menanamkan nilai- nilai kehumanisan di dalamnya. Semoga ceritaku ini menjadi sebuah inspirasi bagi para generasi penerus bangsa ini untuk dapat membebaskan masyarakat Indonesia dari kebodohan.


“PENDIDIKAN BAGI SI MISKIN DAN SI KAYA”

(sebuah cerpen tentang realita pendidikan saat ini oleh H. Krsna Murti)

Siang ini terasa sangat menyengat, peluh mulai bergulir dipelipis mataku, namun ku terus melangkah. Jalan besar telah nampak dan ku tak ingin lagi menunggu angkot terlalu lama. Tepat saat ku sampai ke jalan besar angkot yang ku tunggu pun datang. Berdesak- desakan diantara para penumpang lain yang penuh sesak. Memang sudah menjadi hal yang biasa buatku. Angkot yang sudah penuh sesak ini, tak hentinya mencari penumpang, membuat penumpang- penumpang menggerutu, “ah, namanya juga orang cari makan, kataku dalam hati”.
Saat berhenti di lampu merah, ada seorang anak kecil berpakaian kumal dan kumuh meyodorkan amplop kepadaku saat itu yang sedang duduk berdesak- desakan dengan penumpang angkot yang lain. Kuambil amplop yang diberikan anak kecil tadi kepadaku dan kubaca tulisan diluar amplop tersebut, “Mohon Bantuan Buat Beli Buku, Om” begitu bunyi tulisan itu. Hatiku tergetar melihat anak yang kira- kira masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut, maka kuambil uang dari kantong celanaku dan ku masukan ke dalam amplop tersebut. Begitu anak itu berlalu, bapak yang ada di sebelahku berkata, “mereka itu hanya di suruh mas, lain kali jangan dikasih”. Aku hanya mengangguk tersenyum, ini belum seberapa mas, “kalau di Jakarta hal yang seperti tadi sudah menjamur” kata bapak yang berada di sebelahku, dia rupanya tahu kalau aku memang bukan berasal dari Jakarta. Jujur banyak sekali pertanyaan yang melintas dibenakku, anak- anak tadi punya orang tua atau tidak? Apa mereka tidak sekolah? Pertanyaan- pertanyaanku ini mungkin sudah biasa bagi orang- orang di daerah Jakarta dan memang aku bukan asli Jakarta, aku baru beberapa bulan mengginjakan kaki di kota metropolitan yang penuh tantangan ini. Mungkin ini terasa asing bagiku yang biasanya di kota asalku Yogyakarta jarang melihat pemandangan yang baru saja aku lihat tadi, ya memang di Yogyakarta anak- anak lebih diperhatikan dalam sekolah dan  pendidikannya dibandingkan dengan di Jakarta yang kebanyakan anak- anak dibiarkan bekerja keluyuran di jalan pada hari- hari yang semestinya mereka berada di sekolah. Sungguh mengenaskan bagiku yang saat itu mulai merenung dan melamunkan tentang pendidikan bagi anak- anak tidak mampu yang mulai tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah.

Setelah beberpa saat aku merenung aku dikagetkan dengan teriakan  lantang dari kondektur angkot yang menyadarkanku dari lamunan panjangku tentang kejadian tadi di lampu merah. Setelah aku memberikan uang ribuan kepada kondektur angkot, aku  kemudian turun dari angkot dan mulai mencari alamat rumah budeku yang sudah lama tidak ku kunjungi selama aku berada di Jakarta, setelah bertanya- Tanya dengan beberapa orang dipinggir jalan, akhirnya aku menemukan alamat rumah bude dan pakdeku yang berada di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Dari depan  rumah aku lihat budeku sedang merapikan pot- pot bunganya, melihat kedatanganku yang tiba- tiba budeku sangat senang dan gembira karena sudah hampir selama 10 tahun selama aku berada di Jogja dan kini menetap di Jakarta aku baru pertama kali bertemu lagi dengan budeku. Sambil berpelukan bude berkata “Kamu Naik Angkot Ya Tadi”, kenapa ndak suruh jemput mbakmu aja to tadi, biar dia juga tahu kan tempat Kost- kostanmu, dek. “Sekali- kali bude nggak apa- apa kok, lagian mau sekalian  jalan juga tadi, jawabku”. Setelah minum dan bercerita- cerita banyak tentang pengalamanku selama di jogja dan pindah ke Jakarta, aku bergegas menuju kamar sepupuku, Toni. Ku buka pintu kamarnya, namun kosong. “Toni sedang pergi sama pakdemu”, dia tadi merengek terus minta dibelikan PS 2, kata budeku.
Ya, memang Toni sepupuku anak laki- laki satu- satunya, diantara 3 bersaudara dari keluarga budeku, sehingga membuat bude dan pakdeku terlalu memanjakannya, semua keinginannya selalu dituruti, sampai- sampai sudah dua kali Toni tidak naik kelas karena sering  di manja oleh ayah dan ibunya. Pikiranku kembali teringat dengan kejadian tadi siang pada saat di angkot, tentu aku merasakan sangat kontras sekali dengan realita pendidikan yang kurang di dapatkan oleh anak- anak yang meminta- meminta uang dipinggir lampu merah tadi hanya untuk membeli buku untuk sekolah. Sehingga siapa seharusnya yang harus disalahkan? Pemerintah kah? Atau karena biaya pendidikan yang terlalu mahal? Sungguh miris sekali aku rasakan sebagai seorang mahasiswa melihat realita dari pendidikan di Indonesia yang sesungguhnya. Padahal kalau aku lihat banyak iklan- iklan di media masa yang mengembor- gemborkan tentang sekolah dan pendidikan gratis, namun  dimana kenyataannya, ternyata masih banyak anak- anak diberbagai daerah yang belum mendapatkan pendidikan yang memadai seperti di sekolah formal pada umumnya, sangat memprihatinkan tentang realita pendidikan saat ini. Dengan lamunan yang mulai mengungkapkan realita pendidikan yang sesungguhnya aku  mulai sadar bahwa pendidikan memang penting bagi kita semua para generasi muda agar mendapatkan masa depan yang cerah dan membawa perubahan bagi bangsa Indonesia tercinta ini, Apalagi dengan adanya hari pendidikan yang jatuh pada tanggal 2 Mei, aku semakin bersemangat untuk memajukan pendidikan bagi kaum- kaum miskin agar mereka tidak semakin tertindas oleh kaum kaya yang mempunyai segalanya.
Setelah beberapa saat melamun panggilan budeku untuk makan siang membuyarkan lamunan dan renunganku, dan aku pun dipanggil menuju ruang makan untuk makan siang dengan Toni dan pakdeku yang baru saja datang dari jalan- jalan, aku pun mulai bercengkrama dengan Toni dan  pakdeku yang sudah lama tidak bertemu dan setelah istirahat sebentar di rumah pakde dan budeku aku pun pamit pulang karena hari sudah sore, keesokan harinya aku harus masuk kuliah. Banyak pelajaran yang aku dapat dalam seharian aku berkunjung ditempat pakde dan budeku, aku sadar bahwa “aku harus dapat berhasil memajukan pendidikan, karena dengan pendidikanlah perubahan nyata akan terjadi bagi negeri tercinta kita ini”. (Krsna/Pena Persadha).



(Dikutip, dari perjalanan seorang intelektual muda yang mengadu nasib dikota metropolitan dan melihat realita pendidikan yang sebenarnya di Indonesia ini)

9 Jan 2012

PEMUDA- PEMUDI DI TENGAH ARUS PERKEMBANGAN ZAMAN

 “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” kata- kata mutiara yang dikatakan oleh Bung Karno ini membuktikan betapa kuatnya sosok pemuda yang mampu mengguncangkan dunia. Bukanlah hal yang mustahil jika melihat kembali, Jong Java, Jong Ambon, Volksraad, PNI yang bersatu dalam kumandangan  Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Para pemuda yang menyatukan suara dalam satu tanah air Indonesia, satu bangsa Indonesia, dan satu bahasa, bahasa persatuan Indonesia menjadi sebuah awal bersatunya Pemuda- Pemudi Indonesia untuk bangkit dan menyuarakan kebenaran demi kemerdekaan Indonesia. Lalu bagaimana mimpi kaum muda saat ini terhadap cita- cita yang dibangkitkan oleh para Foundernya terdahulu………………….
    Sumpah Pemuda, bukanlah menjadi hal yang tabu dalam diri bangsa Indonesia, yang menjadi separuh nafas bagi kehidupan Pemuda  saat itu ketika harus merentas perbedaan yang ada dan menggantikan perbedaan itu dengan persatuan. Mimpi dari sosok seperti Soekarno, Muhammad Yamin, WR. Supratman, dan para Founder yang lainnya ketika melihat bangsa Indonesia semakin dijajah oleh pemerintahan kolonial Belanda sehingga harus ada tindakan nyata bagi pemuda untuk bertindak dan bersatu melawan kolonialisme yang dipegang oleh pemerintahan Belanda selama di Indonesia. Sumpah Pemuda sendiri merupakan gabungan dari seluruh organisasi pemuda yang ada di Indonesia dari sabang hingga merauke yang menggabungkan diri sebagai bentuk kekuatan dalam melawan pemerintahan kolonial, ada Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Java, Jong Sumatra, dan beberapa organisasi kepemudaan yang lain yang ikut bergabung dalam Kongres Sumpah pemuda pada bulan Oktober 1928. Soekarno dengan PNInya, Ki Hajar Dewantara dengan pendidikan Taman Siswanya, beserta perkumpulan kaum- kaum terpelajar Indonesia dari perkumpulan pelajar Minangkabau, Batak, Jawa, Kristen dan Muslim ikut dalam Kongres Pemuda yang menghasilkan butir- butir mimpi bagi pergerakan Nasional Pemuda dalam melawan pihak kolonial Belanda.
    Disini kembali catatan Sejarah terulang, catatan Sejarah yang begitu penting yang harapannya tidak pernah akan terlupakan dari diri pemuda- pemudi Indonesia saat ini di tengah perkembangan arus modernisasi berkembang di dalam kalangan pemuda- pemudi saat ini. Nilai- nilai Filososfis yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda mengingatkan kita saat ini dalam diri Pemuda- Pemudi yang terkena arus perkembangan zaman dan Sejarah. Seperti yang diimpi- impikan oleh Mohammad Yamin dalam sebuah sajak yang dikumandangkan bertepatan pada saat Kongres Sumpah Pemuda saat itu di Batavia, dengan judul “Indonesia Tumpah Darahku”, ketika Pemuda- Pemudi saat ini mengalami degradasi pengaruh perkembangan zaman, apakah masih ada Pemuda- Pemudi yang memiliki idealisme menyatukan suara, menyatukan tanah air, dan menyatukan bahasa, bahasa persatuan Indonesia, sekali lagi kita di tantang untuk mengulang Sejarah, di tengah keterpurukan bangsa ini, mampukah pemuda bangkit memberikan pembaharuan bagi bangsa ini, Pemuda yang karena keberaniannya mampu membawa bangsa ini pada kebebasan dan kemerdekaan..
“Sejarah Indonesia Modern”, MC. Ricklefs, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

8 Jan 2012

how about "Kebangkitan Nasional


"Hari ini 103 tahun Kebangkitan Nasional, apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita tentang arti dari sebuah persatuan, Budi Oetomo telah membuktikan tekadnya dengan sebuah keberanian menyatakan perlawanan terhadap sebuah penjajahan di negeri ini, Sebuah kebebasan dalam menentukan sikap perlu dimiliki oleh setiap kaum intelektual muda di dalam menyikapi perubahan zaman yang selalu saja mengikis arti dari sebuah kata persatuan. mendidik tentunya bagi kita kaum Intelektual Muda bagaimana kita mampu mengerti karakter yang ada di dalam diri kita sebagai kaum intelektual muda, yang tidak hanya berpegang teguh pada sebuah kemampuan intelektual tetapi mampu menyeimbangi kemampuan intelektual dengan sebuah tindakan nyata terhadap sesama disekitar kita, 103 tahun Budi Oetomo terlelap dalam tidur panjangnnya dan sudah saatnya kita membangun kembali semangat- semangat para pendahulu kita yang tak pernah padam, mungkin ini juga yang dipikirkan Soe Hok Gie saat ia merenung ditengah kegelisahan diatap rumahnya atau juga hasil kritikan Karl Marx tentang kaum- kaum kapitalis, mengertilah bahwa sebuah sejarah bukanlah sebuah penindasan tetapi bagaimana kita mampu berpikir tentang nilai- nilai apa yang mampu kita hayati dan lakukan demi terciptanya sebuah perubahan bagi bangsa ini, mungkin sebagian orang menganggap demikian tetapi banyak yang menganggap sejarah dunia adalah sebuah penindasan karena terjadi perang dimana- mana, apakah tanpa penindasan sejarah tidak akan ada? mungkin tidak karena dari sejarahlah kita mampu bertindak dan menghayati nilai- nilai penting sebagai pelaku perubahan" ingatlah teman2..........hari ini menjadi awal kebangkitan diri mahasiswa ditengah kegelisahannya akan perkembangan dunia yang semakin kejam akan penidasan..........................
oleh : Angga Riyon Nugroho

My Best Friend:

"sudah saatnya kita mulai melihat arti pendting dari Pendidikan, Kebodohan adalah Hal yang selalu kita perangi sebagai Agent of Change, Para Pelaku Pendidikan sudah sewajarnya merasakan ini, bagaimana disaat KI Hajar Dewantara jatuh bangun dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia pada masa kolonial, Bagaimana Paulo Fiere memerangi Pendidikan Gaya Bank yang hanya memunculkan kaum- kaum penindas baru di dalam dunia pendidikan, lalu Romo Mangun berbicara tentang Pendidikan bagi "Wong Cilik", sudah semestinya kita sadar Romo Driyarkara sebagai salah seorang tokoh pendidikan yang kita kenang sepanjang masa selalu berbicara bagaimana pendidikan itu tidak hanya sekedar memanusaiakan manusia tetapi ada unsusr- unsur terpenting di dalam pendidikan tersebut yang harus kita hayati "Pendidikan yang dialogis, Reflektif dan Evaluatif menjadi dasar bagaimana pembentukan manusia yang tidak hanya sekedar cerdas tetapi menanamkan nilai- nilai kemanusiaan terhadap sesama (Men For Others) mari kita bangkitkan hari Pendidikan ini sebagai hari yang sangat bersejarah terhadap perjuangan tokoh- tokoh pendidikan bangsa ini, Resistensi Pendidikan Nasional merupakan jalan terakhir dalam melakukan perubahan Pendidikan bagi bangsa ini "selamat Hari Pendidikan Teman2 Pendidikan Sejarah semangat perjuangan dimana seorang agent perubahan mampu menghargai para tokoh pendidikan nasional....



oleh Angga Riyon Nugroho