Tim Pawai Kebudayaan Pendidikan Sejarah

Atas : Loppias, Yudi, Roy, Adit, Suryo, Brurry | Bawah : Ade, Nova, Dimas, Ignatius, Cahyo, Yoshi

widget

15 Aug 2013

Hilangnya Warisan Budaya Indonesia Di Museum Sono Budoyo

  
            (Jas Merah) seperti yang dikatakan oleh Bung Karno “Jangan Sekali- kali Melupakan Sejarah”, mungkin kata- kata tersebut yang akan lebih ditepat diingatkan kembali di telinga kita sebagai warga Negara Indonesia. Betapa besar tanggung jawab kita untuk selalu menjaga warisan sejarah Indonesia hingga pada kehidupan anak cucu kita kelak. Namun kata- kata tersebut kembali tak berarti ketika banyak peninggalan sejarah kebudayaan Indonesia yang hilang di curi orang di museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Dari informasi yang di dapat dari mas Nova salah seorang yang peduli tentang permasalahan ini mengatakan, dari benda- benda sejarah yang hilang di Museum Sono Budoyo mengatakan bahwa hampir ada 48 pieces benda koleksi Museum Sono Budoyo yang hilang, diantaranya tujuh buah kalung, kalung rantai mata kalung susun 3 (koleksi no.85), hiasan bentuk kura- kura (koleksi no. 29-33), fragmen kalung (koleksi no.4), topeng lapis emas (koleksi no 99A), peripih berbentuk bunga (koleksi no.74), Arca Dewi Tara (koleksi no.77), Arca Buddha Bodhisatva (koleksi no.76), Arca Buddha Aksobya serta wadah bertutup (emas).
 Dari banyaknya koleksi peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo yang hilang tersebut hampir sebagian merupakan benda peninggalan masa Hindu- Buddha yang memiliki nilai jual cukup tinggi pasar benda- benda antik. Namun dengan hilangnya berbagai koleksi yang terdapat di Museum Sono Budoyo ini membuktikan tidak adanya kepedulian baik dari pemerintah sendiri maupun masyarakat yang berkunjung ke museum untuk menjaga, merawat serta memelihara benda peninggalan sejarah dan budaya Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan masih sangat rawannya benda- benda peninggalan sejarah yang dicuri di dalam museum.
Selain kepedulian masyarakat yang sangat kurang hal perlu dilihat disini ialah kinerja dari pihak- pihak terkait seperti kepolisian maupun pemerintah serta dinas kebudayaan yang sangat lamban dalam menangani kasus ini. Hilangnya benda- benda sejarah koleksi Museum Sono Budoyo ini dari tanggal 11 Agustus 2010 hingga saat ini polisi maupun pihak terkait tidak menemukan titik terang dalam memecahkan kasus hilangnya benda- benda sejarah yang ada di museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Berbeda ketika pihak kepolisian menangani kasus terorisme yang ada di negeri ini, yang justru diselesaikan secara tuntas oleh pihak kepolisian bahkan hingga dapat meringkus para pelakunya. Disini menjadi pembuktian tidak adanya keseriusan dari aparat penegak hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kita sesaat kemudian memikirkan ada apa dengan hukum di Indonesia ini? adakah sebuah permainan politik di dalamnya sehingga mencoba melemahkan sesuatu kekuatan hukum itu sendiri kepada kasus yang memang tidak menguntungkan bagi aparat penegak hukum seperti yang dialami oleh benda- benda peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo? Bagi saya sungguh munafik ketika hukum menjadi ajang permainan untuk memperoleh keuntungan dan menghilangkan permasalahan hukum yang tidak menguntungkan bagi mereka, para aparat penegak hukum.

Hilangnya kepedulian dan kesadaran dari pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini tak membuat segelintir orang hanya berpangku tangan tidak peduli dengan permasalahan ini. Justru beberapa kelompok pencinta budaya yang tergabung dalam Madya (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya) untuk diam saja dalam menyikapi permasalahan ini. Madya sendiri sudah memberikan kontribusi sedikitnya dalam melakukan aksi- aksi peringatan seperti sarasehan maupun orasi bersama menuntut segera diselesaikannya kasus  hilangnya koleksi sejarah yang ada di Museum Sono Budoyo sejak tahun 2010. Serta yang terakhir pada tahun 2013 ini di bulan Mei- Juni Madya mengadakan peringatan 1000 hari hilangnya benda- benda peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo. Namun aksi- aksi serupa akan terus dilakukan oleh Madya dengan menggalang massa aksi yang lebih banyak dengan tuntutan penyelesaian kasus hilangnya benda- benda sejarah di Museum Sono Budoyo. Di tanggal 12 Agustus 2013 tahun ini sudah memasuki tahun 3 dalam peringatan hilangnya benda bersejarah di Museum Sono Budoyo. Dengan mengadakan aksi diam di depan kantor polisi yang kemudian dilanjutkan dengan aksi orasi di sepanjang jalan protokol Malioboro, Yogyakarta. Mengajak kawan- kawan semua yang peduli terhadap permasalahan hilangnya benda- benda warisan budaya koleksi Museum Sono Budoyo untuk ikut turun aksi pada tanggal 12 Agustus 2013, pukul 10.00 Wib di depan Poltabes Yogyakarta. Sebuah harapan yang lebih baik untuk mengajak teman- teman semua lebih peduli terhadap benda- benda warisan budaya Indonesia. Bukan justru malah memanfaatkan benda- benda peninggalan sejarah dan warisan budaya Indonesia untuk kepentingan pribadi serta mengkomersilkan benda- benda peninggalan sejarah tersebut sebagai barang yang dapat diperjualbelikan di pasaran, “Mencintai Indonesia Melalui Budaya Serta Peninggalan yang ada Di dalamnya”. (Madya)    

27 May 2013

Reformasi 1998: Dimana Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia Saat Ini?

“Maju Tak Gentar, Membela yang Benar............Maju Serentak Mengusir Penyerang.........” “Kata- kata diatas yang menginatkan saya kembali pada peringatan Reformasi tahun 1998, tidak gentarnya mereka berhadapan dengan sekelompok orang senjata lengkap ditangan, bom Molotov di badan. Sedikit pun tak membuat mereka gentar untuk menantang maut demi keutuhan ibu pertiwi, walau mereka- mereka ini harus dituduh sebagai Komunis dan musuh besar Negara.” 15 tahun Reformasi tahun 1998 telah bergulir. 15 tahun sudah masyarakat Indonesia telah keluar dari rezim pemerintahan yang dzalim, yaitu pemerintahan Orde Baru. Namun apa makna peringatan Reformasi 1998 bagi segelintir masyarakat Indonesia. Apakah akan dimaknai sebagai sebuah awal terbukanya transformasi sistem demokrasi di Indonesia, ataukah sebaliknya pemerintah yang saat ini tak lebihnya sebagai pencundang- pencundang di balik demokrasi. Menamakan demokrasi demi kepentingan perut mereka masing- masing. Pada realitanya saat ini kondisi yang dialami Indonesia semakin kacau, Korupsi semakin merajalela dimana- mana. Rakyat semakin tidak mendapatkan keadilan dan pertarungan Partai- partai politik demi kepentingan golongannya masing- masing masih terus meneriakan kebohongannya di depan masyarakat Indonesia. Namun dari itu semua masih banyak kelompok- kelompok mahasiswa yang belum lelah sampai saat ini dengan berbagai macam lagu perjuangannya tak gentar sedikit pun menghadapi pemerintah yang dzalim terhadap rakyat Indonesia. Beberapa hari yang lalu tanggal 20 Mei 2013. Ketika kita kembali mengulang sejarah pada tanggal ini terjadi kerusuhan yang mengakibatkan beberapa mahasiswa Trisakti Jakarta meregang nyawa akibat kejahatan pemerintah sendiri yang menganggap mahasiswa sebagai musuh negara. Sehari sesudahnya tanggal 21 Mei 2013 menjadi tonggak sejarah yang teramat penting dimana pada hari ini 15 tahun yang lalu. Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia setelah mahasiswa berhasil merangsek masuk menduduki gedung DPR/MPR yang kemudian memaksa Soeharto harus melepaskan jabatannya sebagai Presiden RI. Beberapa hari kemudian masih di tahun yang sama, setelah Habibie diangkat menjadi Presiden RI, arus demonstrasi dari mahasiswa kian meningkat. Hal ini tentunya menolak Habibie yang dianggap sama saja seperti Soeharto sebagai raja KKN. Mahasiswa menolak hasil Pemilu tahun 1997 yang dianggap cacat hukum karena terjadi penyelewengan di dalam Pemilu tersebut. Kemudian tuntutan mahasiswa untuk mengusut tuntas kasus KKN yang ikut melibatkan Soeharto beserta para kroni- kroninya, namun setelah beberapa bulan Habibie berkuasa beliau juga tidak mengusut tuntas kasus ini atau bahkan seolah- olah menutup mata untuk melakukan perbaikan struktural di dalam pemerintahan maupun situasional dalam kondisi masyarakat Indonesia. Reformasi Pasca Orde Baru Dengan berbagai arus demonstrasi yang kemudian berbuntut kerusuhan dari bulan Mei hingga menjelang akhir tahun 1998, pemerintah seolah- olah tak bergeming dari setiap tuntutan yang selalu dilontarkan oleh mahasiswa. Belum adanya keterbukaan, keadilan bahkan kekerasan yang masih sering terjadi pada setiap demonstrasi mahasiswa menuntut segera diberlakukannya Reformasi di Indonesia menjadi salah satu bukti ketidaksiapan pemerintahan pada saat itu untuk memperbaiki tahap demi tahap kondisi negara yang mengalami kekacauan. Turunnya Soeharto sendiri dari pemerintahan tidak memberikan dampak yang semakin baik dalam pemerintahan Habibie, yang sepanjang masa pemerintahannya terus dihujani oleh kerusuhan dan masa demonstrasi hingga akhir tahun 1998. Lalu bagaimana dengan tuntutan Reformasi yang selama ini dikumandangkan mahasiswa. Bahwa sesudah Soeharto turun keterbukaan, perbaikan supermasi hukum serta keterlibatan masyarakat dalam menentukan langkah politik bangsanya masih saja terus dikekang dan diperhadapkan pada keganasan ABRI yang pada saat itu ternyata masih sewenang- wenang pada demonstrasi damai yang dilakukan oleh mahasiswa. Ini menjelaskan bahwa Reformasi adalah sebuah tuntutan yang sebenarnya masih terlalu utopis untuk diterapkan dan dilakukan pada pemerintahan Indonesia. Mahasiswa menuntut diadakannya KRI (Komite Rakyat Indonesia) di dalam parlemen, serta menuntut ketuntasan kasus KKN yang melibatkan Soeharto serta mencabut dwifungsi ABRI di dalam pemerintahan merupakan bagian- bagian dari tuntutan semu dari mahasiswa yang pada nyatanya ketika melihat kondisi Indonesia saat ini masih saja semuanya itu hanya dianggap sebagai angin lalu di dalam pemerintahan SBY- Boediono. Akibatnya Indonesia kini hanya terpasung pada slogan- slogan demokrasi yang sesungguhnya tidak ada demokratisasi baik di dalam Reformasi maupun bagi rakyat Indonesia. Kini yang ada hanya kepentingan- kepentingan individu yang lapar demi merauk kekayaan bagi pribadinya masing- masing. Salah satunya dari dampak kemunculan berbagai macam partai yang katanya membawa aspirasi bagi rakyat namun semuanya ternyata bohong besar, kepentingan golongan yang diutamakan untuk mendapatkan kursi dipemerintahan kemudian setelah itu lupa terhadap rakyat yang telah mendukung serta memilihnya. Reformasi Pada Saat Ini Tak banyak perubahan yang dapat diharapkan dari keberadaan Reformasi saat ini. Bahkan dapat dilihat kebobrokan dan kekacauan semakin menjadi pada masa pemerintahan SBY- Boediono, namun pengaruh romantisme pemerintah semakin meninabobokan rakyat Indonesia untuk tidak peduli terhadap pemerintahan dan keberlangsungan bangsanya kelak. Slogan- slogan yang selalu mengatakan bahwa ada dampak dari Reformasi tahun 1998 mungkin hanya sekedar omong kosong. Justru kondisi yang terjadi pada saat ini memunculkan ancaman dan tanda tanya baru bagi pemerintah, “apakah benar masyarakatku sudah bosan, sudah jenuh terhadap pemerintahanku saat ini?”seharusnya itu yang ditanyakan SBY- Boediono pada masyarakatnya mengapa semakin pragmatis dalam menghadapi pemerintahannya saat ini. Jika berkaca dengan apa yang terjadi pada saat ini, mungkin bisa lebih kacau karena pergerakan- pergerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat Indonesia saat ini di dalam mengkritik dan bersuara bagi pemerintah Indonesia sudah semakin menurun. Walaupun ada berbagai elemen yang masih menggerakan massanya untuk turun ke jalan namun semua itu hanya akan berakhir di jalan tanpa ada tindak lanjut ataupun tanggapan dari pemerintah. Berarti demokrasi yang masih belum berjalan, walaupun kini masyarakat bebas bersuara menghina para pemimpin- pemimpinnya. Namun semua itu hanya dianggap angin lalu dan tidak ada respon yang berarti oleh pemerintah terhadap kritikan maupun masukan yang dilontarkan oleh mahasiswa serta masyarakat Indonesia. Kemudian berbagai permasalahan saat ini seperti penuntasan masalah Lumpur Lapindo, Korupsi yang ada di tubuh Partai Demokrat dan masalah penuntasan kasus pelanggaran HAM tahun 1998 menjadi segelintir permasalahan yang selalu disuarakan oleh masyarakat Indonesia namun hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan oleh pemerintah untuk serius menyelesaikan permasalahan- permasalahan ini. Lalu penuntasan masalah kemiskinan di Indonesia menjadi salah satu bukti ketidaksiapan pemerintah dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. Hampir sebagian penduduk Indonesia dari perubahan transisi masa Orde Baru hingga saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah kesejahteraan rakyat ini, bahkan hampir sebagian kucuran dana untuk masyarakat seperti pajak maupun import daging sapi saja di Korupsi oleh para elit- elit politik yang berkuasa di parlemen. Hal ini kemudian menimbulkan sebuah permasalahan baru atas hutang Indonesia pada luar negeri yang belum dapat terlunasi setelah berakhirnya masa pemerintahan Orde Baru. Kegagalan demi kegagalan dari pelaksanaan Reformasi masih memberikan dampak yang baik bagi Indonesia. Adanya kebebasan Pers, otonomi di masing- masing daerah dan munculnya berbagai macam partai politik di pemerintahan Indonesia saat ini membuktikan sebagian keinginan dari Reformasi telah dapat tercapai. Walaupun demikian Indonesia harus banyak berbenah. Tinggalkan kepentingan golongan dan mulai memikirkan kepentingan rakyat Indonesia. Semestinya pemerintah SBY-Boediono dapat berkaca pada sejarah yang sudah ada, bukannya kini malah menutup mata dari setiap peristiwa yang sudah tergoreskan dalam ingatan sejarah. Jangan jadikan perjuangan para mahasiswa menjadi sia- sia karena keegoisan pemerintah semata, cita- cita Reformasi memang sudah gagal terlaksana namun apa yang diharapkan oleh Indonesia terkait Demokrasi dan Kesejahteraan rakyat harus tetap diperjuangkan. (A.R.)

7 May 2013

Kita adalah juara!!!



Turnament futsal cewek yang diadakan oleh DPMU Unineversitas Sanata Dharma pada tahun 20013 memang banyak menyedot perhatian dari semua kalangan. Turnament futsal untuk dikalangan mahasiswa Sanata Dharma sebenarnya sudah sangat tidak asing, kegiatan seperti ini memang sering diadakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Turnament futsal yang diadakan oleh DPMU USD memang sangat istimewa karena mempertandingkan futsal cewek antar Prgogram Studi yang ada di Universitas Sanata Dharma. Turnament futsal cewek yang diadakan DPMU hampir semua Prodi mengikuti walaupun beberapa prodi tidak ikut ambil bagian dalam turnament ini. Prodi Pendidikan Sejarah adalah salah satu Prodi yang ikut ambil bagian dalam turnamnet DPMU CUP. Prodi Pendidikan Sejarah adalah Prodi yang tidak pernah absen dalam turnament-turnament yang ada di Universitas Sanata Dharma.
Pertandingan pertama untuk Pendidikan Sejarah pada hari kamis tanggal 2 mei 20013 melawan Prodi BK. Pada pertandingan pertama Pendidikan Sejarah mendapatkan kemenangan tipis atas BK, kemenangan ini berkat sumbangan gol dari Lea yang bersusah payah untuk mencetak gol. Kemenangan atas BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melaju ke babak semi final melawan Prodi Pendidikan Biologi. Dalam turnament kali ini pendidikan Sejarah diperkuat oleh pemain-pemain yang sangat bagus dan kualitasnya tidak jauh dengan pemain futsal cowok. Walaupun pemain banyak didominasi oleh pemian angkatan 2012 tetapi permainan sangat bagus dan terlihat sangat kompak. Khusnu, Desi, Tiara, Olive, Hetty, Grace, Detta, Lea, ini adalah pemein-pemain yang dengan penuh perjuangan mengharumkan Pendidikan Sejarah dan dengan pelatih Eric Suganda.
Kemenangan pertama melawan BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melangkah ke babak semi final melawan Pendidikan Biologi. Kemenangan ini tak bisa lepas dari dukungan suporter yang tiada henti selama pertandingan bernyayi untuk mendukung Pendidikan Sejarah. Dalam pertandingan semi final melawan pemdidikan Biololgi Yang dilaksanakan pada hari jumat 3 Mei 2013, Pndidikan Sejarahjuga meraih kemengan yang kedua kalinya dengan skor yang sangat fantastis yaitu 3-1. Gol kemenangan Pnedidikan Sejarah dicetak oleh Lea yang menyumbang 2 gol dan hetty menyumbang 1 gol. Kemenangan Pedidikan Sejarah melawan Pendidikan Biologi telah membawa Pendidikan Sejarah melaju ke babak final melawan Pendidikan Akutansi. Pendidikan Akutansi yang telah mengalahkan Pendidikan Fisika melaju ke final dan langsung berhadapan dengan Pendidikan Sejarah yang terlebih dahulu melaju ke final setelah mengalahkan Pendidikan Biologi.
Dalam pertandingan final yang dilaksanakan pada hari selasa 7 mei 2013 berlangsung sangat seru dan kedua tim saling menyerang untuk mencoba mencetak gol. Keramaian pertandinag final tidak hanya terjadi didalam lapangan, tetapi juga terjadi diluar lapangan. Suporter yang dtang jauh-jauh dari kampus mrican telah menambah keramian dalam pertandingan final DPMU CUP kali ini. Kedua suporter dari Pendidikan Sejarah yang mengerahkan semua mahasiswanya telah membuat keamanan bekerja ekstra keras guna menganmankan pertandingan final fursal cewek DPMU CUP. Dari pihak Pendidikan Akutansi juga tidak mau kalah dengan keramaian dan kekompakan yang dibuat oleh suporter Pendidikan Sejarah. Pendidikan Akutansi juga mengerahkan mahasiswa Pendidikan Akutansi utnuk mendudkung tim kebanggaanya. Untu suporter Pendidikan Sejarah mulai dari pertama turnament dimulai memang menjadi suporter yang paling ramai dan paling kompak dibandingkan dengan Prodi yang  lain.
Pertandingan final futsal cewek dimulai pada puku 19.00, dalam pertandingan final ini memnag telah banyak menyita perhatian dari kalangan mahasiswa USD. Babak pertama pertandingan masih berjalan kurang meriah, mungkin karena kedua tim masih belum menemukan irama permainan dan pertandingan babak pertama dititip dengan skor kaca mata atau 0-0. Waktu jeda yang sebentar sngat dimanfaatkan oleh tim PnedidikanSejarah untuk mengatur strategi guna menhancurkan pertahanan Pendidikan Akutansi yang cukup kuat. Lea yang dipasang didepan belum juga mampu menjebol pertahanan PAK, walaupaun dibantu oleh Olive, Desi, Tiara yang selalu menyuplai bola dari belakang. Saliang serang sering terjadi antara Pendidikan Sejarah dengan PAK walaupun kedua tim belum mampu menghasilkan gol sampai akhir babak kedua.
Hasil kaca mata sampai akhir babak kedua memang sangat mengecewakan untuk kedua tim. Sesuai dengan peraturan yang dubuat oleh panitia apabila terjadi skor seri maka dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Dalam adu tendangan penalti suasana lapangan futsal kampus paingan menjadi hening, penonton sesaat diam menyaksikan tendangan penalti untuk menentukan pemenang. Tendangan pertama dilakukan oleh PAK, tendangan pertama PAK berhasil ditahan oleh Khusnuk kiper dari PendidikanSejarah. Tendangan selamjutnya dilanjutkan dengan Pendidikan Sejarah yang dumulai oleh Desi sebagai penendang pertama. Tendangan pertama yang dilakukan oleh Desi tidak menghasilkan gol karena bola melesat jauh dari gawang. Tendangan selanjutnya dilakukan oleh PAK dan langsung dilanjutkan oleh Pendidikan Sejarah. Dari tendangan kedua PAK mereka berhasil mencetak gol sedangkan untuk Pendidikan Sejarah bola berhasi ditangkap oleh kiper dari PAK. Untuk kedua kalinya Pendidikan Sejarah harus kehilangan gol ditendangan kedua yang dilakukan oleh Oive. Untuk tendangan penentuan dpenendang terakir diawali oleh PAK. Dalam tendangan terakir PAK berhasil memasukan bola dan secara otomatis membawa PAK mejadi juara DPMU CUP dan Pendidikan Sejarah hanya mampu memperoleh juara dua.
Pendidikan Sejarah memang mendapat hasil yang kurang memuaskan dalam pertandingan final, namum semangat suporter yang diluar mampu menjadi penyemangat bagi para pemain yang merasa sngat kecewa atas kekalahannya. Suporter dari Pendidikan Sejarah tiada henti bernyanyi untuk mendukung teman-teman yang ada ditengah lapanga walaupun harus mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. “kita dipertandingan ini walau kalah tetapi saya merasa puas karena permainan kita sangat bagus” itulah kata-kata yang dikeluarkan oleh Olive untuk menyemangati teman-temannya supaya melupakan kekalahan. Walaupun Pendidikan Sejarah mengalami kekalahan namun semangat kalian di dalam dan di luara lapangan sudah sangat mencerminkan seorang juara sejati. “Juara bukan dibuktikan dengan kemenangan, tetapi juara dibuktikan dengan kerja keras kita tiada henti sampai titik penghabisan”.
“kalah menang gak peduli yang penting damai dihati”

FORZA HISTORYA”
HISTORY EDUCATION EST-1955

Penulis : Ignatius Yuliyanto Putro
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2011

4 May 2013

Serikat Buruh Belum Berhenti Sampai Disini


“Perjuangan dan Kesejahteraan Buruh Menjadi Kepedulian Kita Bersama”




“Seperti aliran air yang terus mengalir tanpa henti”, begitulah yang dapat diartikan dalam perkembangan gerakan Serikat Buruh di Indonesia yang terus bergerak dari tahun ke tahunnya dengan menyuarakan satu tuntutan kepada pemerintah Indonesia, yaitu kesejahteraan sosial bagi kelompok dan kaum buruh. Namun pemerintah seolah tutup mata ketika setiap tahun buruh atau para kaum pekerja turun ke jalan hanya semata- mata untuk memperjuangkan tuntutan tersebut kepada pemerintah. Apa yang kemudian menjadi titik berat bagi pemerintah untuk melayakkan upah buruh dan hapus segala bentuk eksploitasi pemerintah terhadap para kaum buruh? Atau sistem demokrasi di Indonesia ini hanya menjadi sebuah slogan- slogan sampah yang kemudian ditorehkan pemerintah untuk tetap menjalankan amanahnya sebagai pemimpin Negara yang semakin menindas para buruh maupun kaum pekerja?

            Jika memang sistem Demokrasi di negara Indonesia ini  hanya digunakan sebagai tameng untuk melindungi pemerintah dari bopeng kemunafikannya, mungkin ada baiknya ketika pemerintah segera turun langsung dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada serikat pekerja maupun masyarakat Indonesia, karena di nilai pemerintah telah gagal menjalankan amanahnya sebagai pemimpin negara yang mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya termasuk para kaum buruh. Ada hal yang menarik kemudian yang seolah- olah tertorehkan dari wacana ini, pertama tentang perjuangan kaum buruh yang ternyata sudah di mulai pada masa pergerakan nasional. Di tahun 1912 pergerakan kaum buruh tersebut mulai memunculkan gaungnya, dengan munculnya golongan- golongan Marxis yang diawali pada penyemaian benih- benih Komunisme oleh tokoh ISDV (Indhiche Sosial- Democratiche Vereninging) Henk Joseph Sneevlit yang masuk pada organisasi Sarekat Islam sebagai tujuan untuk melakukan aksi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu Semarang menjadi salah satu kota dimulainya perlawanan serikat buruh serta pekerja terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Dengan didukung keberadaan  organisasi Sarekat Islam Merah yang dipimpin oleh Semaoen membuat golongan- golongan pekerja/buruh semakin mudah diorganisir untuk mendapatkan kesejahteraan haknya sebagai manusia maupun pekerja bagi golongan Kapitalisme maupun pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Pada bulan Desember 1917 golongan buruh diorganisasikan agar lebih militan dalam mengadakan pemogokan terhadap perusahaan- perusahaan yang bertindak sewenang- wenang. Akibat aksi- aksi ini kemudian ada salah satu perusahaan mebel yang memecat lima belas orang buruhnya. Dari pemecatan 15 orang buruh inilah kemudian timbul reaksi dari tampung pimpinan SI Merah Semaoen dan Kadarisman untuk memproklamirkan pemogokan menuntut tiga hal, pertama  pengurangan jam kerja dari 8,5 jam menjadi 8 jam, kedua selama mogok gaji tetap dibayarkan penuh, ketiga buruh yang dipecat, diberi uang pesangon tiga bulan gaji. Mengkaji aspek sejarah dari pergerakan kaum buruh ternyata tidak hanya berkembang dan terjadi pada saat ini melainkan bermula munculnya penindasan di Indonesia dan liberalisasi perdagangan oleh pihak swasta di tahun 1870.  Menjadi salah satu akar pemicu mengapa buruh hingga sampai pada saat ini masih tetap memperjuangkan tuntutannya soal kesejahteraan dan menolak eksploitasi berlebihan dari golongan- golongan Kapitalis swasta. Hal ini hanya menjadi sebuah gambaran sekilas tentang bagaimana gigihnya perjuangan para kaum pekerja/buruh untuk mendapatkan seluruh hak dan tuntutannya sebagai seorang manusia.

Kedua, menjadi sebuah ketertarikan pada gerakan serikat buruh pada saat ini adalah keinginan untuk membentuk perserikatan- perserikatan buruh untuk melawan pihak swasta menjadi sebuah ciri khas yang sangat berbeda oleh perjuangan- perjuangan buruh pada masa lalu, yang hanya dipelopori oleh golongan- golongan kaum Marxis yang kemudian juga memiliki pengaruh kepentingan politik dalam mengembangkan ideologi Komunis. Sehingga menjadi cikal bakal terbentuk PKI sebagai Partai Politik pada masa pemerintahan Orde Lama. Namun dari itu semua kaum- kaum buruh/pekerja saat ini berusaha untuk melakukan sebuah gerakan yang independent tanpa mendapatkan pengaruh politik dari setiap ormas maupun golongan partai apapun. Walaupun terkadang tidak akan memungkiri banyak bermunculan golongan- golongan Partai yang berafiliasi dengan buruh seperti Partai Rakyat Demokrasi (PRD) maupun organisasi- organisasi mahasiswa yang bersinggungan langsung dengan urusan- urusan buruh/serikat pekerja. Tetapi keberanian buruh untuk membentuk organisasi- organisasi buruh Independent seperti SBI (Serikat Buruh Indonesia), ABJ (Aliansi Buruh Jogjakarta), maupun KASBI (Kesatuan Aksi Serikat Buruh Indonesia) menjadi bukti bahwa buruh sudah mampu bersuara sendiri tanpa ada pengaruh- pengaruh dari golongan politik maupun partai tertentu.

Pembuktian bahwa serikat pekerja/buruh masih tetap bergerak hingga sampai saat ini dibuktikan dengan masih antusiasnya buruh- buruh yang ikut dalam aksi turun ke jalan dalam peringatan May Day (Hari Buruh Internasional) yang jatuh pada hari Rabu (1/5/2013). Di beberapa kota besar di Indonesia penjagaan keamanan sudah mulai diperketat untuk mengantisipasi gerakan buruh yang berdemonstrasi disepanjang jalan- jalan protokol di beberapa kota- kota besar di Indonesia. Seperti yang terjadi di Jakarta tepatnya di wilayah Pulogadung, Jakarta Timur. Para buruh yang berasal dari 373 perusahaan di kawasan industria Pulogadung melakukan konvoi secara beramai- ramai di dalam kawasan yang dikelola oleh PT JIEP (Jakarta Industries Estate Pulogadung) sejak pukul 08.00 WIB. Di dalam aksi tersebut para buruh ikut juga melibatkan berbagai organisasi buruh untuk ikut dalam aksi memperingati May Day tersebut, seperti KSPSI (Konferensi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), KSBSI (Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), FSPOI (Federasi Serikat Pekerja Otomotif Indonesia) dll. Di dalam aksi yang dimulai dari titik awal di kawasan industri Pulogadung kemudian melanjutkan konvoi hingga menuju wilayah Bundaran HI berkumpul juga dengan serikat buruh lainnya yang melakukan aksi di sekitaran Bundaran HI. Selain aksi buruh yang terjadi di Jakarta, hal serupa juga terjadi pada aksi gerakan buruh untuk memperingati May Day di kota Purwakarta. Sejak pagi hari aparat keamanan sudah berjaga- jaga di depan pintu gerbang tol Cikampek untuk mengantisipasi konvoi besar- besaran oleh para buruh yang beramai- ramai menggunakan bus. Ada 30 bus yang diberhentikan oleh petugas di depan gerbang tol Cikampek yang mengangkut hampir 1500 massa buruh di dalamnya.

Demikian menjadi bentuk realita yang dapat terlihat bahwa dari dulu, sekarang sampai saat nanti perjuangan kaum buruh dan serikat pekerja tidak akan berhenti begitu saja. Keberlanjutan untuk memperoleh keadilan serta kesejahteraan dari sebuah negara yang dikatakan menjunjung tinggi nilai- nilai Demokrasi ternyata masih menciptakan sesuatu euforia yang gagal pada pemerintahan SBY- Boediono untuk menyejahterakan masyarakat terutama bagi kaum pekerja/buruh. Sehingga statement yang selalu dieluk- elukan oleh beberapa organisasi buruh ketika melakukan aksi unjuk rasa bukanlah semata- mata slogan yang digunakan sebagai bentuk gertakan kepada pemerintah, melainkan sebuah fakta yang belum ditemukan langkah penyelesaiannya pada saat ini oleh pemerintah. “Keberpihakan Pemerintah Pada Pengelola- Pengelola Perusahaan Swasta Inilah yang Akhirnya Membuat Pemerintah Hanya Menjadi Boneka Dari Golongan- golongan Kapitalis Untuk Semakin Menindas Golongan Pekerja, Semestinya Pemerintah Memiliki Ketegasan Untuk Menolak Segala Bentuk Kapitalisasi kepada Golongan Pekerja/Buruh, Sehingga Tidaklah Mungkin Ketika Pemerintah Mampu Mengambil Segala Keputusan Untuk Melawan Kapitalisme Swasta, Kesejahteraan, Hak Serta Keadilan bagi Serikat Buruh Akan Tercapai”. (A.R.)

Penulis: Angga Riyon Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Sejarah USD 2009

Sumber: Hok, Soe Gie.2005.Di Bawah Lentera Merah.Bentang Pustaka. Yogyakarta
Okezone.com”Puluhan Bus Angkut Buruh Tertahan Selama 3 Jam di Pintu Tol Cikampek” diunduh tanggal 1 Mei 2013
Okezone.com “Ribuan Buruh Konvoi Mengelelingi Kawasan Industri Pulogadung” diunduh tanggal 1 Mei 2013

20 Feb 2013

Haji Misbach: Antara Islamisme dan Komunis




“… di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama.”



Mungkin di dalam sejarah bangsa Indonesia tokoh ini tidak akan pernah seterkenal seperti tokoh- tokoh golongan kiri lainnya seperti Tan Malaka maupun Semaon namun dari pemikirannya terlahir sebuah paham keagamaan yang mampu progresif dan memiliki nilai kebangsaan untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan pada masa kolonial Belanda.
            Namanya Misbach, terlahir dari keluarga golongan santri di kota Surakarta/Solo sosoknya kemudian berubah menjadi sosok yang kontroversial, dengan pemahaman ideologinya yang berusaha memadukan Pan Islamisme dengan Komunisme yang digunakannya untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan di kalangan masyarakat Surakarta saat itu. Sejak kecil Misbach yang merupakan putra dari seorang pedagang batik ini sudah mulai terbiasa dengan lingkungan disekitarnya yang memiliki pemahaman agama Islam cukup kuat, karena Misbach sendiri yang bernama kecil Ahmad ini dilahirkan dilingkungan Kraton Kasunanan Surakarta dekat dengan alun- alun utara Surakarta dan Masjid Agung Surakarta. Menjelang dewasa Misbach kemudian tumbuh menjadi pribadi yang sederhana dan ramah kepada setiap orang yang membuat dirinya tidak pernah membedakan status priyayi dengan golongan proletar seperti petani maupun buruh, bahkan dirinya setelah memiliki gelar haji sekalipun tetap memposisikan dirinya sebagai sosok yang merakyat dengan tidak memilih menggunakan sorban ataupun peci haji melainkan memakai ikat kepala jawa yang mengkhaskan dirinya sebagai sosok putra Jawa yang memperjuangkan kepentingan golongan- golongan proletar dengan tetap memegang teguh ajaran- ajaran agama yang dianutnya.
Di tahun 1914 Misbach mulai aktif dalam pergerakan diawalinya dengan bergabung bersama IJB (Indlandsche Journalisten Bond) yang kemudian juga bekerjasama dengan Marco yang sering juga disebut menjadi salah satu tokoh dari SI (Sarekat Islam), di tahun 1915 Misbach menerbitkan Medan Moeslimin, kemudian pada tahun 1917 dengan Islam Bergerak Misbach semakin berjaya membangun propaganda pada tataran masyarakat Surakarta saat itu, surat- surat kabar bentukan Misbach ini menjadi gerakan yang populer di wilayah Surakarta dan sekitarnya sehingga pada saat itu sangat mudah sekali membangun perlawanan masyarakat untuk menentang pemerintahan kolonial Hindia- Belanda. Kemudian dari media ini Misbach mulai berubah menjadi sosok yang propagandis dan populis bagi kalangan kaum pekerja/buruh.

Agama Bukan Slogan, Namun Gerakan
            Menjadi sosok pemuka agama seperti Misbach yang mengakui dirinya sebagai seorang haji tentu bukan perkara mudah untuk mengaplikasikan ilmu- ilmu agama yang telah di dapatnya kepada umat sebagai bentuk pengabdiannya sebagai seorang muslim dan sebagai seorang haji. Nampaknya pun demikian dengan tokoh- tokoh agama saat ini yang memiliki pandangan religius cukup kuat dari sekian banyak peristiwa yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Namun apakah agama hanya membuat seorang sosok Misbach hanya berdiam diri di bawah bendera penindasan dan imperialisme kolonial? Tentu tidak, inilah yang diharapkan dari sifat dan pandangan ideologisnya yang mencoba untuk menjadi Komunis walaupun statusnya adalah seorang haji sehingga tak banyak yang memberi julukan kepadanya sebagai haji merah yang populis.

            Asumsi saya kemudian menegaskan dari cara pandang dan berpikir orang- orang golongan kiri melalui kutipan kata ini “Ada sebuah cerita tentang kehidupan petani jawa yang miskin dan di upah sangat kecil oleh para tuan- tuan tanah, petani- petani miskin ini mengabdi kepada tuan tanah dan bekerja, mendapat upah namun tak seberapa. Upah- upah itu sama sekali tidak berharga. Jangankan bisa dikumpulkan untuk membeli tanah, untuk membeli baju pun teramat sulit. Kemudian cerita berlanjut. Sang utusan kemudian bertanya kepada petani Jawa: “mungkin sampean- sampean disini banyak yang ingin bertanya: Apakah tuan tanah itu beragama?” Ya tuan- tuan tanah itu beragama, juga orang- orang miskin yang dipekerjakan juga beragama. Mereka bertuhan dan beribadah tetapi, agama inilah yang membuat buruh tani tidak punya keinginan sama sekali untuk merubah nasibmereka sendiri. Agama- agama inilah yang membuat buruh tani menjadi bodoh dan semakin melarat, bahkan buruknya agama- agama ini semakin mengontrol para petani untuk taat kepada tuan- tuannya.”(Dharmawan 2011:30)
Sebuah kutipan yang bagi saya merupakan menjadi dasar berpikir dari Misbach sendiri untuk melakukan pergerakan bagi para kaum pekerja untuk berani melawan, dan berani untuk keluar dari ketertindasan kolonial masa itu. Cara berpikir yang populis dan berani dari sosok Misbach mungkin yang akan diungkapkan oleh Marco yang mengenal Misbach selama ini, seorang haji sekaligus seorang pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide- ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia (Indonesia) pada saat itu.
Sehingga dapat dikatakan pemikiran Misbach sendiri juga tidak akan pernah terlepas dari beberapa tokoh Komunis maupun gerakan radikal kiri yang sedang populer pada saat itu, seperti SI (Sarekat Islam) yang terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih yang kemudian populer dengan sebutan SI Sayap Kiri dengan Semaoen sebagai pimpinannya kemudian memberikan pandangan baru untuk melakukan gerakan bagi Misbach untuk melakukan aksi- aksi pemogokan dan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Dengan demikian Misbach bukanlah semacam haji yang menerima mentah- mentah pemahaman agama tanpa mengaplikasikan secara nyata untuk melakukan revolusi dan terbebas dari penjajahan, namun sebaliknya Misbach selalu beranggapan bahwa keberadaan Islam sebagai agama di dalam kehidupannya sudah seharusnya memerdekakan dirinya dan masyarakat tertindas lainnya, sehingga gerakan Komunis yang dipilihnya sebagai suatu jalan untuk melakukan pembebasan tersebut sebagai seorang yang beragama dan bertuhan.

Sudah Saatnya Menanam Kebencian Pada Penindasan
Setelah banyak membicarakan dasar dari pemikiran Misbach yang lebih mementingkan kepentingan para kaum pekerja dan masyarakat tertindas tentu saja hal ini tidak akan terlepas dari kebencian Misbach terhadap lingkungan ditempatnya tinggal di wilayah Kauman, Surakarta yang terdiri dari pemuka agama dan  hanya berdiam diri ketika melihat situasi kemiskinan yang semakin terjadi pada petani dan buruh. Sebuah kebencian yang mendalam dari Misbach sehingga ia mengatakan hal yang demikian “… di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama.” Misbach melihat tidak semua golongan Islam berpihak kepada rakyat, masih banyak golongan- golongan pemuka agama Islam yang hanya mementingkan kekayaan pribadi daripada menolong kesusahan rakyat yang menderita karena penjajahan pemerintah colonial saat itu.



 Hal inilah yang kemudian membuat Misbach semakin kuat melancarkan pengorganisiran serta pemogokan kerja terhadap petani tahun 1919 dan membuat basis- basis pergerakan rakyat di Surakarta. Akibat aksi yang dibuatnya Misbach serta beberapa pimpinan aksi lainnya ditangkap oleh pemerintah kolonial di tahun 1920 dan Misbach di bebaskan kembali ke Surakarta pada tanggal 22 Agustus tahun 1922. Kembalinya Misbach dari pengasingan dan penangkapan tidak membuatnya jera untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, di tahun 1923 Misbach kembali muncul sebagai propagandis Sarekat Islam Merah, ia kemudian menyuarakan tentang keselarasan antara paham kiri dan Islam.
Selain menjadi kaum propagandis untuk golongan petani dan buruh di Surakarta saat itu, Misbach juga menjadi sosok yang mencintai kesenian Jawa dan  mudah bergaul dengan kelompok anak muda Surakarta penikmat musik Klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer, sehingga dalam bidang kesenian Misbach sendiri merupakan sosok yang masih tetap mempertahankan tradisi tanah kelahirannya yang juga menjadi kawan berbincang bagi para pemuda yang menekuni kesenian musik Klenengan dan pertunjukan Wayang Kulit di Surakarta.

“Jangan Takut, Jangan Khawatir”
            Perlawanan Misbach terhadap antek- antek kapitalis tidak hanya berhenti melalui menggalang aksi- aksi pemogokan kerja bagi para buruh dan petani di wilayah Surakarta namun juga dalam bentuk perlawanan melalui tulisan. Misbach menjadi salah satu penulis aktif di media Islam Bergerak dan Medan Moeslimin. Banyak kritikannya yang ia tunjukkan kepada orang- orang yang mengaku Islam namun menjadi “Islam Lamisan”, kaum terpelajar yang berkata bijaksana namun menjadi penjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri. Selain itu kebencian Misbach terhadap golongan kapitalis teramatlah besar, siapa yang dianggapnya sebagai antek kapitalis akan dihadapinya melalui tulisan di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Selain melalui tulisan Misbach juga dikenal karena perbuatannya “Menggerakan Islam” seperti mengadakan tabligh, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, menentang semua penyakit hidup boros dan bermewah-mewahan yang masih belum dapat ditinggalkan oleh segelintir kelompok pada masa itu yang akhirnya tidak mampu melihat apa yang terjadi pada masyarakat yang semakin ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda.
            Melalui Slogannya yang sangat propagandis “Jangan Takut, Jangan Khawatir” seolah- olah Misbach memberikan harapan bagi masyarakat Surakarta saat itu khususnya golongan petani dan buruh bahwa perjuangan belum usai, berani untuk keluar dari ketakutan dan berani keluar dari kekhawatiran yang seakan- akan ingin disampaikan Misbach bahwa sebuah perlawanan yang dilakukan terhadap penindasan harus berani menghadapi rasa takut dan rasa khawatir di dalam diri. Slogan tersebut kemudian yang divisualisasikan Misbach dalam sebuah kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919, kemudian isinya menusuk kepada kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerjakan mereka, memberi upah kecil dan membebani pajak kepada mereka. Dengan keberadaan kartun ini memunculkan sebuah gerakan baru bagi para petani untuk melakukan aksi pemogokan, saat itu Paku Buwono X juga menjadi salah satu antek- antek pemerintah kolonial Belanda yang ikut menindas dan mempekerjakan petani dengan upah kecil terkena dampak dari aksi pemogokan para petani.
            Secara tidak langsung Misbach memberikan dorongan kepada para petani maupun para buruh di Surakarta untuk mampu menghilangkan rasa ketakutan mereka dari penindasan, “Jangan Takut digantung, dihukum, dibuang” demikian perkataannya kepada rakyat yang kemudian mengobarkan sebuah semangat perlawanan   terhadap kaum- kaum penindas. Karena memang bagi Misbach kapitalisme menjadi biang dari kehancuran nilai- nilai kemanusiaan dan agama rusak pun karenanya.


 Pada tanggal 7 Mei 1919 Misbach tangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditahan di Semarang sebelum kemudian dipindahkan ke Manokwari, Papua. Berbagai upaya dari teman- teman seperjuangan Misbach untuk membebaskan Misbach dalam persidangan namun semua hukuman semakin memberatkan Misbach dan ia tetap saja ditahan. Keseharian Misbach pun hanya diisi dengan menulis laporan perjalananya yang berjudul “Islamisme dan Komunisme” dan membaca Al-Quran.
Di tengah ganasnya alam  pengasingan  bersama Istri dan anaknya di Manokwari Misbach menderita penyakit Malaria. Misbach pun meninggal pada 24 Mei 1926 yang kemudian dimakamkan di kuburan Penidi, Manokwari, disamping kuburan istrinya. Walaupun kini sosoknya telah tiada dan hilang tanpa jejak di pengasingan namun sebuah pemahaman tentang sebuah pergerakan agama dan komunis tidak akan pernah luntur dari ingatan sejarah nasional Indonesia. Perannya sebagai seorang haji merah memang tidak pernah banyak diketahui oleh para generasi muda saat ini, namun bagaimana sebuah pemahaman yang akan didapatkan tentang agama yang seharusnya membebaskan, bukan membelenggu pada penindasan, keterpurukan dan kebodohan menjadi sebuah inti dan dasar dari pergerakan Misbach selama ini dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi para petani dan buruh, walaupun harus Komunis yang ia pilih sebagai langkah gerakan melawan penjajahan. “Akhirnya kita sadar bahwa agama bukanlah sebuah teori yang harus saling diperdebatkan satu sama lain untuk mencapai suatu kebenaran, namun kebenaran tersebut akan kita peroleh jika kita mau berjuang dan mau berusaha dalam sebuah pergerakan bukan hanya berdiam diri dan berbicara pada kebohongan diri sendiri.”
Sebuah Kutipan kata- kata Misbach di Medan Moeslimin sebelum ditangkap dan diasingkan:
 “…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”  (A.R.)

Daftar Pustaka:

Dharmawan, Rus.2011.Inkonsistensi Gerakan Radikal Kiri”Praktik Politik Kaum Komunis di Indonesia”.Kreasi Wacana.Yogyakarta

Rakyat Sejahtera.htm “Mengenal Sepak Terjang Haji Misbach” diunduh tanggal 11 Februari 2013


Penulis                   : Angga Riyon Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Angakatan 2009