Tim Pawai Kebudayaan Pendidikan Sejarah

Atas : Loppias, Yudi, Roy, Adit, Suryo, Brurry | Bawah : Ade, Nova, Dimas, Ignatius, Cahyo, Yoshi

widget

29 Oct 2013

“Gunakan Momentum Sumpah Pemuda, Buruh Mogok Bersama”


Esok hari tanggal 28 Oktober 2013, sebuah tanggal yang bersejarah bagi perjuangan pemuda Indonesia, dimana pada tanggal ini 85 tahun yang lalu pemuda- pemudi Indonesia yang tergabung dalam  Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Minahasa Bond, Madura Bond, Sumatranen Bond mengkumandangkan Sumpah Pemuda. Sebuah sumpah suci atas rasa nasionalisme para pemuda untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan. Melalui kongres Sumpah Pemuda yang diadakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, pemuda- pemudi Indonesia mencoba menyatukan arah perjuangan, melepaskan kepentingan golongan dan kedaerahannya masing- masing hanya untuk merdeka dari penjajahan.
Tidak jauh berbeda dari pengalaman yang dilakukan oleh para pemuda- pemudi bangsa Indonesia di dalam sejarah Sumpah Pemuda, demikian halnya yang dialami oleh kaum buruh di Indonesia. Perjuangannya tidak akan pernah berhenti hingga kesejahteraan serta kelayakan hidup didapatkan oleh kaum buruh. Perkembangan kaum buruh di dalam sejarah justru sudah ada sebelum Sumpah Pemuda di kumandangkan di tahun 1928. Justru pergerakan kaum buruh di masa- masa tersebut sudah mendekati titik massif dalam perlawanannya terhadap pemerintah kolonial Belanda. Di tahun 1917 Sarekat Islam Semarang yang dipimpin oleh Semaoen melakukan beberapa aksi mogok bersama kaum buruh yang berujung pada aksi- aksi propaganda menuntut keadilan serta kemanusiaan bagi para buruh yang diperlakukan sewenang- wenang oleh majikannya.
Bukti dari kesewenang- wenangan para majikan maupun para mandor kepada para buruh dituliskan dalam buku Di Bawah Lentera Merah, karya Soe Hok Gie, yang di dalamnya dikutip demikian: “Kesadaran betapa ampuhnya senjata mogok yang diorganisasikan dan dibantu Sarekat Islam, sebulan kemudian dipakai kembali. Permasalahannya ialah seorang mandor galak disebuah bengkel mobil yang memukul kulinya. Sarekat Islam Semarang menyatakan mogok dan akan terus mogok apabila tidak diambil tindakan. .......beberapa hari kemudian tuntutan SI diterima oleh majikan bengkel mobil”.  Kutipan ini menunjukan fungsi advokasi dari Sarekat Islam Semarang kepada kaum buruh yang mengalami kekerasan dari para mandor atau majikannya sehingga aksi mogok bersama menjadi isu yang selalu diangkat oleh Sarekat Islam yang pada saat itu juga didorong oleh ISDV untuk melakukan propaganda untuk melawan penindasan pemerintah kolonial terhadap kaum buruh melalui mogok massa.

Mogok Nasional, Jalan Keluar
            Melihat betapa militannya perjuangan kaum buruh di dalam sejarah, membuktikan bahwa buruh bukanlah merupakan kaum yang lemah, terdiskriminasi maupun terpinggirkan oleh para kaum penguasa. Mereka berani melakukan perlawanan dari masa ke masa. Tahun 1917 menjadi perlawanan pertama bagi kaum buruh di wilayah Hindia- Belanda (Indonesia), namun di tahun 2013 ini perlawanan buruh semakin mengalami perkembangan bahkan hingga ketingkatan nasional buruh- buruh bersatu melakukan mogok massal. Aksi mogok nasional buruh akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober sampai tanggal 31 Oktober 2013, hal ini berkaitan dengan reaksi terhadap kebijakan pemerintah yang akan mengumumkan penetapan upah minimum buruh pada tanggal 1 November 2013. Perihal aksi pemogokan nasional buruh ini diungkapkan oleh said Iqbal Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang akan melibatkan seluruh elemen buruh untuk melakukan aksi turun ke jalan dan mogok kerja selama akhir Oktober hingga awal November sebelum pemerintah menetapkan kebijakan terkait upah minimum bagi kaum buruh. Mogok nasional ini pasti dilaksanakan, jumlah massa yang akan diajak untuk mogok bersama mencapai 3 juta orang di 200 kabupaten- kota, dan akan mengkonsolidasikan seluruh para buruh di bandara, pelabuhan, kantor- kantor dan pabrik- pabrik yang ada di hampir 20 provinsi di Indonesia.
            Momentum sumpah pemuda menjadi awal yang baik dalam pergerakan kaum buruh untuk melakukan mogok massal. Tentunya bukan saja pemerintah dan pengusaha yang diingatkan disini terhadap nasib kaum buruh serta kebijakan inpres terhadap kaum buruh, melainkan membukakan mata masyarakat bahwa buruh bukanlah kaum lemah, tertindas dan terjajah, melainkan sebaliknya mogok kerja merupakan senjata ampuh bagi buruh melawan kaum- kaum modal dan feodal di Indonesia. Namun setajam- tajamnya aksi mogok sebagai media perlawanan bagi kaum buruh dan cara mereka menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, kaum buruh juga harus berhati- hati dalam melancarkan serangan aksi mogok, agar tidak menjadi boomerang yang kemudian menjadi petaka bagi kaum buruh. Hal yang demikian diungkapkan oleh Soewarsono di dalam bukunya “Bergerak Berbareng” yang mencoba mengambil sisi lain dari aksi mogok yang dilaksanakan kaum buruh di era Sarekat Islam Semarang, dimana dikutip demikian:
“Soeatoe Pemogokan jalah sendjatanja kaoem boeroeh jang tadjem sendiri, tetapi kaloe kaoem boeroeh koerang pinter memakeinja, maka sendjata itoe bisa memboenoeh si kaoem boeroeh sendiri djoega (gaman makan toean)”
Jadi setajam-tajamnya aksi mogok nasional jika kaum buruh sendiri kurang cerdas dan pintar dalam memanfaatkan aksi mogok nasional ini, aksi mogok tersebut akan membunuh kaum buruh sendiri. Memang dapat dikatakan di masa kini aksi- aksi pemogokan buruh kian massif dan menjadi sebuah jalan keluar dalam memperbaiki nasib buruh kedepannya, namun ada baiknya jika memang kepentingan kaum buruh ini tidak dijadikan untuk kepentingan politik kekuasaan bagi golongan tertentu, sehingga murni gerakan ini lahir untuk memperjuangkan nasib kaum buruh.

Sumpah Pemuda Dalam Kerangka Gerakan Buruh
            Makna Sumpah Pemuda oleh sebagian orang selalu dimaknai dengan awal perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Diawali dengan isi dari Sumpah Pemuda, “Bertanah Air Satu, Berbangsa Satu, dan Berbahasa Satu”, ketiganya memiliki makna persatuan yang sangat dalam bagi perjuangan pemuda Indonesia. Namun sejak diproklamasikan kemerdekaan di tahun 1945, makna kemerdekaan dan persatuan di dalam isi Sumpah Pemuda kini seolah- olah lenyap. Banyak pemuda- pemudi yang kini justru mensalahaertikan makna kemerdekaan itu sendiri, mereka menganggap Indonesia kini sudah merdeka 100 % tapi sebenarnya bentuk penjajahan yang dialami oleh Indonesia kini berupa penjajahan pola pikir karena perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
            Pemuda- pemudi Indonesia kini masuk ke dalam lingkaran arus globalisasi dengan pengaruh- pengaruh budaya barat, dan semakin mempermudah untuk mengakses serta menggunakan teknologi. Nasionalisme kini pun dipertaruhkan demi sebuah pemahaman globalisasi yang berakar dari kapitalisme global. Ini menjadi sebuah tantangan berat bagi para pemuda- pemudi dimana jiwa serta roh Sumpah Pemuda mampu mengeliminasi perbedaan untuk mencapai kemakmuran bangsa.
            Berbicara masalah kemakmuran bangsa sebagai tujuan dari Sumpah Pemuda bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dicapai, dimana di dalam kacamata buruh di Indonesia belum satupun buruh di Indonesia yang dapat mencapai kesejahteraan serta kemakmuran bahkan dikatakan untuk hidup layak, selayaknya sebagai seorang pekerja. Ini menjadi persoalan penting di dalam gerakan buruh yang selalu dianggap memiliki kekuataan layaknya seorang pemuda- pemudi Indonesia untuk memperjuangkan tuntutan buruh kepada pemerintah, seperti isu- isu Outsourscing, pengadaan upah minimun kepada kaum buruh, kekerasan dan perbudakan terhadap kaum buruh, yang kini kian marak terjadi dan berakhir pada aksi- aksi demonstrasi kaum buruh untuk menciptakan kondisi Chaos di lingkungannya masing- masing. Oleh karena semangat Sumpah Pemuda ini kaum buruh akan selalu memanfaatkan momentum ini sebagai awal dari langkah perjuangan bagi kaum buruh. Dengan ikut mengandeng elemen- elemen gerakan mahasiswa maupun serikat- serikat pekerja buruh seolah- olah menjadi dewa yang mampu mengkerdilkan nyali pemerintah maupun para pengusaha swasta untuk berlaku sewenang- wenang terhadap kaum buruh.
            Pemerintah disini harus memiliki ketegasan untuk mengambil kebijakan terhadap kesejahteraan buruh, agar arus demontsrasi dan mogok nasional bisa semakin berkurang. Dalam kondisi seperti ini pemerintah melarang seluruh buruh untuk melakukan sweeping pada tanggal 28 Oktober esok ini, namun pemerintah sendiri tidak memiliki solusi dalam menangani masalah kesejahteraan dan kemakmuran bagi kaum buruh. Tentu saja demikian ketika, pemerintah saat ini bukanlah pemerintah yang memperhatikan nasib rakyatnya namun hanya memikirkan nasib perutnya sendiri dengan berbagai kasus korupsi yang ikut melibatkan beberapa oknum pemerintah saat ini, betapa rakus dan serakahnya pejabat-pejabat pemerintah saat ini. Kesenjangan sosial semakin terbuka lebar dan kesejahteraan yang diharapkan hanya sebuah mimpi belaka bagi kaum buruh. (Angga, Psej’09)

Sumber:
Buku
Soe Hok Gie.2005.Di Bawah Lentera Merah.Bentang Pustaka.Yogyakarta
Soewarsono.2000.Berbareng Bergerak “Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen”.LKIS.Yogyakarta

Web
Antara News.com “Buruh Rencanakan Mogok Nasional Akhir Oktober”diunduh tanggal 26 Oktober 2013
Gemari.or.id “Pemuda Miliki Idealisme Untuk Tentukan Sendi Kehidupan”diunduh tanggal 26 Oktober 2013

 Penulis : Angga Riyon Nungroho (Pendidikan Sejarah USD)

21 Oct 2013

Lekra: Revolusi Kebudayaan Dari Tjindurian



Di tahun 1965 ketika jatuhnya rezim orde lama oleh peristiwa G30S, banyak orang berpendapat bahwa dalang yang patut dipersalahkan dalam peristiwa ini adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Mereka dianggap ingin melakukan kudeta menjatuhkan pemerintahan Soekarno dengan menculik serta membunuh para jenderal Angkatan Darat yang kemudian jenazahnya sebagian ditemukan di desa Lubang Buaya, Jakarta. Dari peristiwa inilah mulai terdengar gencar isu- isu terhadap organ- organ yang memiliki keterkaitan dengan PKI seperti, Surat Harian Rakjat yang kemudian di bredel dari peredarannya, kemudian organisasi Gerwani yang seluruh anggotanya kemudian ditangkap lalu diperkosa secara bergantian secara biadab oleh oknum- oknum Angkatan Darat, dan salah satunya yang kemudian selalu dipertanyakan terlibat di dalam unsur PKI adalah LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Mengapa kemudian organisasi yang terakhir disebutkan ini menjadi salah satu organisasi yang memiliki kedekatan dengan PKI tentu akan memunculkan sebuah pertanyaan besar bagi masyarakat Indonesia yang masih percaya akan pelurusan sejarah Indonesia sebagai sebuah skenario orde baru. Mengapa demikian? Mungkin dikarenakan masyarakat Indonesia saat ini hanya mempercayai skenario sejarah buatan orde baru yang selalu mengatakan bahwa G30S merupakan aksi kudeta yang dilakukan oleh PKI beserta organ- organ yang bersentuhan langsung dengan mereka, kemudian banyak yang mempercayai bahwa PKI melakukan pengerusakan terhadap tempat- tempat ibadat dan pembakaran terhadap kitab- kitab suci yang menandakan kekejaman PKI bahkan identik dengan istilah tidak bertuhan. Kemudian seolah- olah PKI hanya dianggap sebagai setan- setan yang mengerikan di masa orde baru yang harus dijauhi dan harus dimusnahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang Pancasilais.
Namun apakah masih banyak bukti yang menguatkan bahwa PKI itu bersalah? Apalagi yang ikut melibatkan orang- orang Lekra di dalamnya, yang murni masuk ke dalam keanggotaan Lekra untuk menyalurkan bakat seni serta budayanya sebagai media untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Hal ini sungguh tidak masuk akal dan banyak persepsi yang kemudian memandang Lekra negatif, ikut serta di dalam aksi kudeta serta menjadi bulan- bulanan Angkatan Darat yang sudah terlanjur mempercayai Lekra masuk kedalam struktural PKI.

Merasa Jatuh Serta Dipermainkan Oleh Zaman yang Kejam
            Di bentuk pada masa Revolusi Kemerdekaan bukan menjadi perjuangan yang mudah bagi Lekra yang berusaha menyatukan seluruh para seniman dan budayawan untuk tetap mendukung kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, salah satunya melalui kesenian. Lekra di bentuk di Jakarta, 17 Agustus 1950. Tepat lima tahun setelah pecah Revolusi Agustus 1945. Terbentuk dari inisiatif para senimanyang berkumpul di ibu Kota yang kemudian mendirikan Lekra sebagai wadah perjuangan mereka sebagai seniman yang mendukung kemerdekaan Indonesia dari penjajahan melalui jalur Seni.
            Seperti yang diungkapkan oleh Hersri Setiawan, Sekertaris Umum Lekra Jawa Tengah yang mengatakan bahwa pembentukan Lekra tak dapat dilepaskan dari situasi politik Tanah Air kala itu. Setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, pada 1949, Indoensia tidak dapat dikatakan merdeka seratus persen. “Jadi pembentukan Lekra bertujuan membebaskan diri dari ketergantungan pada negeri penjajah”, ujar Hersri, pada pertengahan bulan September lalu kepada redaksi Majalah Tempo.
            Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Rhoma Dwi Aria salah satu dosen Sejarah dari Universitas Negeri Yogyakarta dalam tulisannya Lekra Tak Membakar Buku, Lekra muncul untuk mencegah kemerosotan lebih lanjut dari garis revolusi. Artinya tugas revolusi bukan hanya diemban oleh para pemimpin bangsa Indonesia melainkan juga menjadi tanggung jawab para pekerja kebudayaan.
           
Pembentukannya di awal revolusi kemerdekaan Indonesia tidak sebanding dengan kisah perjalanannya, Lekra kemudian dihadapkan dengan permasalahan yang pelik, dari persaingannya dengan Manikebu hingga tuduhan ikut terlibat dalam peristiwa G30S menjadi bagian dari sejarah kelam Lekra di akhir- akhir tahun 1965-1966. Pembunuhan 7 Jenderal Angkatan Darat di Jakarta yang diikuti dengan pembantain massal orang- orang yang dianggap serta dituduh PKI membawa Lekra jatuh kedalam lingkaran pembantaian karena dianggap ikut tergabung ke dalam PKI seperti organisasi- organisasi massa yang lainnya seperti BTI, Gerwani dan Harian Suara Rakjat.
Sejauh mana kedekatan antara Lekra dengan PKI mungkin tidak banyak orang yang tahu, bahkan banyak dari organisasi kelembagaan yang lainnya yang dituduh ikut dalam kegiatan PKI tidak tahu menahu sama sekali dengan konflik yang terjadi antara tahun 1965-1966 yang puncaknya terjadi pada pembersihan seluruh antek- antek PKI beserta organ- organ yang ikut terlibat di dalamnya. Pertanyaannya apakah Lekra menjadi bagian dari PKI? Lalu sejauh mana para Lekra mengetahui seluk beluk terjadinya pembunuhan para Jenderal di tahun 1965?
Pertanyaan- pertanyaan ini akan terjawab ketika melihat hubungan Lekra dan PKI ataupun anggapan orang selama ini yang selalu mengatasnamakan Lekra sebagai onderbouw dari PKI. Pada intinya banyak para anggota Lekra yang menolak organisasi Lekra menginduk pada pada PKI. Njoto salah satu pendiri Lekra sekaligus Pki selalu melawan keinginan ketua CC PKI D.N. Aidit untuk menjadikan Lekra sebagai organisasi resmi PKI. Salah seorang eks anggota Lekra secara bergurau pernah mengatakan, “Aidit gagal mem-PKI-kan Lekra, tapi Soeharto justru berhasil mewujudkannya”. Meskipun dianggap sebagai sebuah gurauan namun ada makna tertentu yang dimunculkan dalam gurauan ini, mungkin dapat dikatakan bahwa Soehartolah yang justru menjadi akar dari permasalahan ini, yang kemudian menjadikan Lekra sebagai tertuduh serta merasa dipermainkan oleh konspirasi politik dalam perpindahan zaman yang kejam dan pelakunya seolah- olah mengarahkan pada sosok Soeharto. Asumsi yang kedua terkait seberapa dekat Lekra dengan PKI, dapat terjawab pada awal pendirian Lekra banyak petinggi- petinggi PKI seperti Njoto maupun Aidit yang ikut terlibat di dalam proses pembentukannya namun dapat dikatakan orang semacam Aidit tidak pernah rutin datang pada saat pertemuan Lekra berlangsung, sehingga dapat dikatakan Aidit bukan anggota aktif Lekra, dia lebih condong ke PKI. Lalu kemudian asumsi yang ketiga ialah disaat PKI menjadi salah satu partai pemenang Pemilu tahun 1955, di dalam memperoleh suara Aidit yang saat itu menjabat sebagai ketua CC PKI harus mencari dukungan sebanyak- banyaknya bahkan dengan organ- organ diluar dari PKI, seperti BTI, Gerwani maupun Lekra sendiri, hal ini murni politik untuk kembali mengangkat nama PKI yang telah lama hilang kepermukaan dan perkancahan politik Indonesia saat itu.
 Namun dari ketiga pandangan ini ada satu hal yang terkadang jarang diangkat ke dalam permukaan yaitu ketertarikan pribadi Aidit selaku ketua CC PKI terhadap seni terutama seni musik, yang kemudian membawanya pada organisasi Lekra yang dirasa cukup mempunyai kapasitas massa besar dalam skala nasional yang dapat dimanfaatkan Aidit sebagai ajang pengangkatan namanya di dalam dunia politik dan dapat mengapresiasikan kesenangan pribadinya di dalam bidang seni. Berbagai asumsi yang sudah dipaparkan tersebut tentu tidak akan membuat pandangan orang terhadap Lekra akan langsung berubah, tetap pandangan terhadap organisasi ini selalu dihubungkan sebagai Onderbouw PKI. Setelah peristiwa 65 terjadi para pemimpin Lekra dihabisi: ditangkap, dibunuh, dipenjarakan. Mereka kemudian diasingkan di Eropa, di negeri- negeri dingin sampai mati kesepian, bahkan makam salah satu tokoh Lekra Utuy Tatang sampai saat ini tidak diketahui dimana rimbanya setelah kematiannya pada tahun 1979 di Moskow, sosok- sosok seniman ini seolah menghilang ditelan zaman yang kejam. Bagi yang selamat hingga dapat diwawancarai sampai saat ini tidak akan bisa melepas kepedihannya sebagai eks- tapol PKI, merasa dipermainkan mungkin akan selalu terjadi, namun mereka hanya berharap pemerintah saat ini tahu yang sebenarnya tentang Lekra dan tentang PKI agar menjauhkan stigma- stigma negatif pada organisasi- organisasi ini.

Tjindurian 19, Rumah Budaya yang Dirampas Kemerdekaannya
            Setelah meletus peristiwa 65 segala aktifitas dari kegiatan Lekra bersama anggotanya terancam begitupun dengan jalannya aktifitas kesekertariatan Lekra di Jalan Tjindurian 19, Jakarta secara otomatis berhenti total. Kemudian beberapa tokoh- tokoh Lekra di Jakarta dan sekitarnya ditangkap serta kemudian diasingkan. Tjindurian 19 menjadi bagian dari kehidupan organisasi Lekra yang berjalan terseok- seok oleh kejaran militer yang sudah terlanjur mengecap mereka sebagai orang PKI. Kantor Lekra ini biasa digunakan untuk mempersiapkan segala kebutuhan yang berkaitan dengan pementasan, pertunjukan bagi para anggota Lekra yang ingin mengadakan pertunjukan seni maupun pementasan. Hampir setiap hari kantor ini disibukan dengan pembuatan dekorasi pertunjukan maupun untuk menyimpan perlengkapan- perlengkapan kesenian yang selesai digunakan untuk pentas.
            Seolah- olah ingin menghilangkan pengaruh dari Komunisme di Indonesia, pemerintahan masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto kemudian berusaha membangun opini baru untuk meleburkan Lekra dan melenyapkannya dari sejarah Indonesia, dengan merobohkan segala bangunan- bangunan yang dahulu pernah dijadikan kantor Lekra seperti di Jalan Tjindurian 19, Menteng, Jakarta Pusat dan di kantor Lekra yang terdapat di Jalan Salemba Raya kini beralih fungsi markas kepolisian Metro Sawah Besar dan Balai Konservasi Sumber daya Alam DKI Jakarta.
            Sungguh segalanya telah hilang dalam sekejap karena dianggap sebagai Kudeta yang gagal di tahun 1965, bangsa Indonesia kini harus merelakan sejarahnya dimanipulasi hanya untuk kepentingan pemerintah Orde Baru. Bahkan yang sangat disayangkan lagi berpuluh- puluh ribu jiwa tak bersalah harus dikorbankan karena peristiwa ini. Kini Tjindurian 19 sepi tak ada lagi pertunjukan ketoprak, wayang, teater maupun kegiatan melukis bagi para seniman kota Jakarta dalam mengapresiasikan bakat seninya itu, hanya tersisa bangunan- bangunan baru hasil rampasan pemerintah Orde Baru yang sengaja melenyapkan bangunan- bangunan bersejarah hasil karya para seniman rakjat.
            Namun tidak selamanya orang- orang yang dianggap sebagai eks anggota Lekra bahkan yang masih selamat hingga sampai saat ini hanya tetap berdiam diri saja, melainkan tetap selalu menghidupkan kesenian bagi rakjat yang tetap jalannya untuk menempuh kemerdekaan. Tidak semua anggota Lekra tertangkap pada masa Geger 1965, masih ada eks anggota Lekra yang masih tetap menghidupkan jiwa berkeseniannya di beberapa kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Semarang, Solo dan Bandung karena di Jakarta sendiri menjadi pusat kekuatan militer yang mematikan aktifitas berkesenian anggota Lekra, sehingga pergerakan beralih ke luar kota Jakarta. Dari Tjinudiran inilah kesenian rakjat hidup yang tetap membawa nama Lekra tetap dikenang bagi para seniman tanah air. Kemerdekaan Tjindurian memang telah dirampas oleh Orde Baru, namun semangat revolusi akan tetap terus lahir dari para penerus- penerus Lekra yang tetap ingin berkarya dan bersuara bagi kemerdekaan Indonesia.


Sumber:
 Majalah Tempo Edisi Khusus Lekra dan Geger 1965   tanggal 30 September 2013 -6 Oktober 2013 hal. 54-62 

Penulis                   : Angga Riyon Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma
Angkatan 2009


15 Aug 2013

Hilangnya Warisan Budaya Indonesia Di Museum Sono Budoyo

  
            (Jas Merah) seperti yang dikatakan oleh Bung Karno “Jangan Sekali- kali Melupakan Sejarah”, mungkin kata- kata tersebut yang akan lebih ditepat diingatkan kembali di telinga kita sebagai warga Negara Indonesia. Betapa besar tanggung jawab kita untuk selalu menjaga warisan sejarah Indonesia hingga pada kehidupan anak cucu kita kelak. Namun kata- kata tersebut kembali tak berarti ketika banyak peninggalan sejarah kebudayaan Indonesia yang hilang di curi orang di museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Dari informasi yang di dapat dari mas Nova salah seorang yang peduli tentang permasalahan ini mengatakan, dari benda- benda sejarah yang hilang di Museum Sono Budoyo mengatakan bahwa hampir ada 48 pieces benda koleksi Museum Sono Budoyo yang hilang, diantaranya tujuh buah kalung, kalung rantai mata kalung susun 3 (koleksi no.85), hiasan bentuk kura- kura (koleksi no. 29-33), fragmen kalung (koleksi no.4), topeng lapis emas (koleksi no 99A), peripih berbentuk bunga (koleksi no.74), Arca Dewi Tara (koleksi no.77), Arca Buddha Bodhisatva (koleksi no.76), Arca Buddha Aksobya serta wadah bertutup (emas).
 Dari banyaknya koleksi peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo yang hilang tersebut hampir sebagian merupakan benda peninggalan masa Hindu- Buddha yang memiliki nilai jual cukup tinggi pasar benda- benda antik. Namun dengan hilangnya berbagai koleksi yang terdapat di Museum Sono Budoyo ini membuktikan tidak adanya kepedulian baik dari pemerintah sendiri maupun masyarakat yang berkunjung ke museum untuk menjaga, merawat serta memelihara benda peninggalan sejarah dan budaya Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan masih sangat rawannya benda- benda peninggalan sejarah yang dicuri di dalam museum.
Selain kepedulian masyarakat yang sangat kurang hal perlu dilihat disini ialah kinerja dari pihak- pihak terkait seperti kepolisian maupun pemerintah serta dinas kebudayaan yang sangat lamban dalam menangani kasus ini. Hilangnya benda- benda sejarah koleksi Museum Sono Budoyo ini dari tanggal 11 Agustus 2010 hingga saat ini polisi maupun pihak terkait tidak menemukan titik terang dalam memecahkan kasus hilangnya benda- benda sejarah yang ada di museum Sono Budoyo, Yogyakarta. Berbeda ketika pihak kepolisian menangani kasus terorisme yang ada di negeri ini, yang justru diselesaikan secara tuntas oleh pihak kepolisian bahkan hingga dapat meringkus para pelakunya. Disini menjadi pembuktian tidak adanya keseriusan dari aparat penegak hukum untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kita sesaat kemudian memikirkan ada apa dengan hukum di Indonesia ini? adakah sebuah permainan politik di dalamnya sehingga mencoba melemahkan sesuatu kekuatan hukum itu sendiri kepada kasus yang memang tidak menguntungkan bagi aparat penegak hukum seperti yang dialami oleh benda- benda peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo? Bagi saya sungguh munafik ketika hukum menjadi ajang permainan untuk memperoleh keuntungan dan menghilangkan permasalahan hukum yang tidak menguntungkan bagi mereka, para aparat penegak hukum.

Hilangnya kepedulian dan kesadaran dari pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini tak membuat segelintir orang hanya berpangku tangan tidak peduli dengan permasalahan ini. Justru beberapa kelompok pencinta budaya yang tergabung dalam Madya (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya) untuk diam saja dalam menyikapi permasalahan ini. Madya sendiri sudah memberikan kontribusi sedikitnya dalam melakukan aksi- aksi peringatan seperti sarasehan maupun orasi bersama menuntut segera diselesaikannya kasus  hilangnya koleksi sejarah yang ada di Museum Sono Budoyo sejak tahun 2010. Serta yang terakhir pada tahun 2013 ini di bulan Mei- Juni Madya mengadakan peringatan 1000 hari hilangnya benda- benda peninggalan sejarah di Museum Sono Budoyo. Namun aksi- aksi serupa akan terus dilakukan oleh Madya dengan menggalang massa aksi yang lebih banyak dengan tuntutan penyelesaian kasus hilangnya benda- benda sejarah di Museum Sono Budoyo. Di tanggal 12 Agustus 2013 tahun ini sudah memasuki tahun 3 dalam peringatan hilangnya benda bersejarah di Museum Sono Budoyo. Dengan mengadakan aksi diam di depan kantor polisi yang kemudian dilanjutkan dengan aksi orasi di sepanjang jalan protokol Malioboro, Yogyakarta. Mengajak kawan- kawan semua yang peduli terhadap permasalahan hilangnya benda- benda warisan budaya koleksi Museum Sono Budoyo untuk ikut turun aksi pada tanggal 12 Agustus 2013, pukul 10.00 Wib di depan Poltabes Yogyakarta. Sebuah harapan yang lebih baik untuk mengajak teman- teman semua lebih peduli terhadap benda- benda warisan budaya Indonesia. Bukan justru malah memanfaatkan benda- benda peninggalan sejarah dan warisan budaya Indonesia untuk kepentingan pribadi serta mengkomersilkan benda- benda peninggalan sejarah tersebut sebagai barang yang dapat diperjualbelikan di pasaran, “Mencintai Indonesia Melalui Budaya Serta Peninggalan yang ada Di dalamnya”. (Madya)    

27 May 2013

Reformasi 1998: Dimana Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia Saat Ini?

“Maju Tak Gentar, Membela yang Benar............Maju Serentak Mengusir Penyerang.........” “Kata- kata diatas yang menginatkan saya kembali pada peringatan Reformasi tahun 1998, tidak gentarnya mereka berhadapan dengan sekelompok orang senjata lengkap ditangan, bom Molotov di badan. Sedikit pun tak membuat mereka gentar untuk menantang maut demi keutuhan ibu pertiwi, walau mereka- mereka ini harus dituduh sebagai Komunis dan musuh besar Negara.” 15 tahun Reformasi tahun 1998 telah bergulir. 15 tahun sudah masyarakat Indonesia telah keluar dari rezim pemerintahan yang dzalim, yaitu pemerintahan Orde Baru. Namun apa makna peringatan Reformasi 1998 bagi segelintir masyarakat Indonesia. Apakah akan dimaknai sebagai sebuah awal terbukanya transformasi sistem demokrasi di Indonesia, ataukah sebaliknya pemerintah yang saat ini tak lebihnya sebagai pencundang- pencundang di balik demokrasi. Menamakan demokrasi demi kepentingan perut mereka masing- masing. Pada realitanya saat ini kondisi yang dialami Indonesia semakin kacau, Korupsi semakin merajalela dimana- mana. Rakyat semakin tidak mendapatkan keadilan dan pertarungan Partai- partai politik demi kepentingan golongannya masing- masing masih terus meneriakan kebohongannya di depan masyarakat Indonesia. Namun dari itu semua masih banyak kelompok- kelompok mahasiswa yang belum lelah sampai saat ini dengan berbagai macam lagu perjuangannya tak gentar sedikit pun menghadapi pemerintah yang dzalim terhadap rakyat Indonesia. Beberapa hari yang lalu tanggal 20 Mei 2013. Ketika kita kembali mengulang sejarah pada tanggal ini terjadi kerusuhan yang mengakibatkan beberapa mahasiswa Trisakti Jakarta meregang nyawa akibat kejahatan pemerintah sendiri yang menganggap mahasiswa sebagai musuh negara. Sehari sesudahnya tanggal 21 Mei 2013 menjadi tonggak sejarah yang teramat penting dimana pada hari ini 15 tahun yang lalu. Soeharto mengundurkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia setelah mahasiswa berhasil merangsek masuk menduduki gedung DPR/MPR yang kemudian memaksa Soeharto harus melepaskan jabatannya sebagai Presiden RI. Beberapa hari kemudian masih di tahun yang sama, setelah Habibie diangkat menjadi Presiden RI, arus demonstrasi dari mahasiswa kian meningkat. Hal ini tentunya menolak Habibie yang dianggap sama saja seperti Soeharto sebagai raja KKN. Mahasiswa menolak hasil Pemilu tahun 1997 yang dianggap cacat hukum karena terjadi penyelewengan di dalam Pemilu tersebut. Kemudian tuntutan mahasiswa untuk mengusut tuntas kasus KKN yang ikut melibatkan Soeharto beserta para kroni- kroninya, namun setelah beberapa bulan Habibie berkuasa beliau juga tidak mengusut tuntas kasus ini atau bahkan seolah- olah menutup mata untuk melakukan perbaikan struktural di dalam pemerintahan maupun situasional dalam kondisi masyarakat Indonesia. Reformasi Pasca Orde Baru Dengan berbagai arus demonstrasi yang kemudian berbuntut kerusuhan dari bulan Mei hingga menjelang akhir tahun 1998, pemerintah seolah- olah tak bergeming dari setiap tuntutan yang selalu dilontarkan oleh mahasiswa. Belum adanya keterbukaan, keadilan bahkan kekerasan yang masih sering terjadi pada setiap demonstrasi mahasiswa menuntut segera diberlakukannya Reformasi di Indonesia menjadi salah satu bukti ketidaksiapan pemerintahan pada saat itu untuk memperbaiki tahap demi tahap kondisi negara yang mengalami kekacauan. Turunnya Soeharto sendiri dari pemerintahan tidak memberikan dampak yang semakin baik dalam pemerintahan Habibie, yang sepanjang masa pemerintahannya terus dihujani oleh kerusuhan dan masa demonstrasi hingga akhir tahun 1998. Lalu bagaimana dengan tuntutan Reformasi yang selama ini dikumandangkan mahasiswa. Bahwa sesudah Soeharto turun keterbukaan, perbaikan supermasi hukum serta keterlibatan masyarakat dalam menentukan langkah politik bangsanya masih saja terus dikekang dan diperhadapkan pada keganasan ABRI yang pada saat itu ternyata masih sewenang- wenang pada demonstrasi damai yang dilakukan oleh mahasiswa. Ini menjelaskan bahwa Reformasi adalah sebuah tuntutan yang sebenarnya masih terlalu utopis untuk diterapkan dan dilakukan pada pemerintahan Indonesia. Mahasiswa menuntut diadakannya KRI (Komite Rakyat Indonesia) di dalam parlemen, serta menuntut ketuntasan kasus KKN yang melibatkan Soeharto serta mencabut dwifungsi ABRI di dalam pemerintahan merupakan bagian- bagian dari tuntutan semu dari mahasiswa yang pada nyatanya ketika melihat kondisi Indonesia saat ini masih saja semuanya itu hanya dianggap sebagai angin lalu di dalam pemerintahan SBY- Boediono. Akibatnya Indonesia kini hanya terpasung pada slogan- slogan demokrasi yang sesungguhnya tidak ada demokratisasi baik di dalam Reformasi maupun bagi rakyat Indonesia. Kini yang ada hanya kepentingan- kepentingan individu yang lapar demi merauk kekayaan bagi pribadinya masing- masing. Salah satunya dari dampak kemunculan berbagai macam partai yang katanya membawa aspirasi bagi rakyat namun semuanya ternyata bohong besar, kepentingan golongan yang diutamakan untuk mendapatkan kursi dipemerintahan kemudian setelah itu lupa terhadap rakyat yang telah mendukung serta memilihnya. Reformasi Pada Saat Ini Tak banyak perubahan yang dapat diharapkan dari keberadaan Reformasi saat ini. Bahkan dapat dilihat kebobrokan dan kekacauan semakin menjadi pada masa pemerintahan SBY- Boediono, namun pengaruh romantisme pemerintah semakin meninabobokan rakyat Indonesia untuk tidak peduli terhadap pemerintahan dan keberlangsungan bangsanya kelak. Slogan- slogan yang selalu mengatakan bahwa ada dampak dari Reformasi tahun 1998 mungkin hanya sekedar omong kosong. Justru kondisi yang terjadi pada saat ini memunculkan ancaman dan tanda tanya baru bagi pemerintah, “apakah benar masyarakatku sudah bosan, sudah jenuh terhadap pemerintahanku saat ini?”seharusnya itu yang ditanyakan SBY- Boediono pada masyarakatnya mengapa semakin pragmatis dalam menghadapi pemerintahannya saat ini. Jika berkaca dengan apa yang terjadi pada saat ini, mungkin bisa lebih kacau karena pergerakan- pergerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat Indonesia saat ini di dalam mengkritik dan bersuara bagi pemerintah Indonesia sudah semakin menurun. Walaupun ada berbagai elemen yang masih menggerakan massanya untuk turun ke jalan namun semua itu hanya akan berakhir di jalan tanpa ada tindak lanjut ataupun tanggapan dari pemerintah. Berarti demokrasi yang masih belum berjalan, walaupun kini masyarakat bebas bersuara menghina para pemimpin- pemimpinnya. Namun semua itu hanya dianggap angin lalu dan tidak ada respon yang berarti oleh pemerintah terhadap kritikan maupun masukan yang dilontarkan oleh mahasiswa serta masyarakat Indonesia. Kemudian berbagai permasalahan saat ini seperti penuntasan masalah Lumpur Lapindo, Korupsi yang ada di tubuh Partai Demokrat dan masalah penuntasan kasus pelanggaran HAM tahun 1998 menjadi segelintir permasalahan yang selalu disuarakan oleh masyarakat Indonesia namun hingga saat ini tidak pernah ada tanggapan oleh pemerintah untuk serius menyelesaikan permasalahan- permasalahan ini. Lalu penuntasan masalah kemiskinan di Indonesia menjadi salah satu bukti ketidaksiapan pemerintah dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. Hampir sebagian penduduk Indonesia dari perubahan transisi masa Orde Baru hingga saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah kesejahteraan rakyat ini, bahkan hampir sebagian kucuran dana untuk masyarakat seperti pajak maupun import daging sapi saja di Korupsi oleh para elit- elit politik yang berkuasa di parlemen. Hal ini kemudian menimbulkan sebuah permasalahan baru atas hutang Indonesia pada luar negeri yang belum dapat terlunasi setelah berakhirnya masa pemerintahan Orde Baru. Kegagalan demi kegagalan dari pelaksanaan Reformasi masih memberikan dampak yang baik bagi Indonesia. Adanya kebebasan Pers, otonomi di masing- masing daerah dan munculnya berbagai macam partai politik di pemerintahan Indonesia saat ini membuktikan sebagian keinginan dari Reformasi telah dapat tercapai. Walaupun demikian Indonesia harus banyak berbenah. Tinggalkan kepentingan golongan dan mulai memikirkan kepentingan rakyat Indonesia. Semestinya pemerintah SBY-Boediono dapat berkaca pada sejarah yang sudah ada, bukannya kini malah menutup mata dari setiap peristiwa yang sudah tergoreskan dalam ingatan sejarah. Jangan jadikan perjuangan para mahasiswa menjadi sia- sia karena keegoisan pemerintah semata, cita- cita Reformasi memang sudah gagal terlaksana namun apa yang diharapkan oleh Indonesia terkait Demokrasi dan Kesejahteraan rakyat harus tetap diperjuangkan. (A.R.)

7 May 2013

Kita adalah juara!!!



Turnament futsal cewek yang diadakan oleh DPMU Unineversitas Sanata Dharma pada tahun 20013 memang banyak menyedot perhatian dari semua kalangan. Turnament futsal untuk dikalangan mahasiswa Sanata Dharma sebenarnya sudah sangat tidak asing, kegiatan seperti ini memang sering diadakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Turnament futsal yang diadakan oleh DPMU USD memang sangat istimewa karena mempertandingkan futsal cewek antar Prgogram Studi yang ada di Universitas Sanata Dharma. Turnament futsal cewek yang diadakan DPMU hampir semua Prodi mengikuti walaupun beberapa prodi tidak ikut ambil bagian dalam turnament ini. Prodi Pendidikan Sejarah adalah salah satu Prodi yang ikut ambil bagian dalam turnamnet DPMU CUP. Prodi Pendidikan Sejarah adalah Prodi yang tidak pernah absen dalam turnament-turnament yang ada di Universitas Sanata Dharma.
Pertandingan pertama untuk Pendidikan Sejarah pada hari kamis tanggal 2 mei 20013 melawan Prodi BK. Pada pertandingan pertama Pendidikan Sejarah mendapatkan kemenangan tipis atas BK, kemenangan ini berkat sumbangan gol dari Lea yang bersusah payah untuk mencetak gol. Kemenangan atas BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melaju ke babak semi final melawan Prodi Pendidikan Biologi. Dalam turnament kali ini pendidikan Sejarah diperkuat oleh pemain-pemain yang sangat bagus dan kualitasnya tidak jauh dengan pemain futsal cowok. Walaupun pemain banyak didominasi oleh pemian angkatan 2012 tetapi permainan sangat bagus dan terlihat sangat kompak. Khusnu, Desi, Tiara, Olive, Hetty, Grace, Detta, Lea, ini adalah pemein-pemain yang dengan penuh perjuangan mengharumkan Pendidikan Sejarah dan dengan pelatih Eric Suganda.
Kemenangan pertama melawan BK telah menghantar Pendidikan Sejarah melangkah ke babak semi final melawan Pendidikan Biologi. Kemenangan ini tak bisa lepas dari dukungan suporter yang tiada henti selama pertandingan bernyayi untuk mendukung Pendidikan Sejarah. Dalam pertandingan semi final melawan pemdidikan Biololgi Yang dilaksanakan pada hari jumat 3 Mei 2013, Pndidikan Sejarahjuga meraih kemengan yang kedua kalinya dengan skor yang sangat fantastis yaitu 3-1. Gol kemenangan Pnedidikan Sejarah dicetak oleh Lea yang menyumbang 2 gol dan hetty menyumbang 1 gol. Kemenangan Pedidikan Sejarah melawan Pendidikan Biologi telah membawa Pendidikan Sejarah melaju ke babak final melawan Pendidikan Akutansi. Pendidikan Akutansi yang telah mengalahkan Pendidikan Fisika melaju ke final dan langsung berhadapan dengan Pendidikan Sejarah yang terlebih dahulu melaju ke final setelah mengalahkan Pendidikan Biologi.
Dalam pertandingan final yang dilaksanakan pada hari selasa 7 mei 2013 berlangsung sangat seru dan kedua tim saling menyerang untuk mencoba mencetak gol. Keramaian pertandinag final tidak hanya terjadi didalam lapangan, tetapi juga terjadi diluar lapangan. Suporter yang dtang jauh-jauh dari kampus mrican telah menambah keramian dalam pertandingan final DPMU CUP kali ini. Kedua suporter dari Pendidikan Sejarah yang mengerahkan semua mahasiswanya telah membuat keamanan bekerja ekstra keras guna menganmankan pertandingan final fursal cewek DPMU CUP. Dari pihak Pendidikan Akutansi juga tidak mau kalah dengan keramaian dan kekompakan yang dibuat oleh suporter Pendidikan Sejarah. Pendidikan Akutansi juga mengerahkan mahasiswa Pendidikan Akutansi utnuk mendudkung tim kebanggaanya. Untu suporter Pendidikan Sejarah mulai dari pertama turnament dimulai memang menjadi suporter yang paling ramai dan paling kompak dibandingkan dengan Prodi yang  lain.
Pertandingan final futsal cewek dimulai pada puku 19.00, dalam pertandingan final ini memnag telah banyak menyita perhatian dari kalangan mahasiswa USD. Babak pertama pertandingan masih berjalan kurang meriah, mungkin karena kedua tim masih belum menemukan irama permainan dan pertandingan babak pertama dititip dengan skor kaca mata atau 0-0. Waktu jeda yang sebentar sngat dimanfaatkan oleh tim PnedidikanSejarah untuk mengatur strategi guna menhancurkan pertahanan Pendidikan Akutansi yang cukup kuat. Lea yang dipasang didepan belum juga mampu menjebol pertahanan PAK, walaupaun dibantu oleh Olive, Desi, Tiara yang selalu menyuplai bola dari belakang. Saliang serang sering terjadi antara Pendidikan Sejarah dengan PAK walaupun kedua tim belum mampu menghasilkan gol sampai akhir babak kedua.
Hasil kaca mata sampai akhir babak kedua memang sangat mengecewakan untuk kedua tim. Sesuai dengan peraturan yang dubuat oleh panitia apabila terjadi skor seri maka dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Dalam adu tendangan penalti suasana lapangan futsal kampus paingan menjadi hening, penonton sesaat diam menyaksikan tendangan penalti untuk menentukan pemenang. Tendangan pertama dilakukan oleh PAK, tendangan pertama PAK berhasil ditahan oleh Khusnuk kiper dari PendidikanSejarah. Tendangan selamjutnya dilanjutkan dengan Pendidikan Sejarah yang dumulai oleh Desi sebagai penendang pertama. Tendangan pertama yang dilakukan oleh Desi tidak menghasilkan gol karena bola melesat jauh dari gawang. Tendangan selanjutnya dilakukan oleh PAK dan langsung dilanjutkan oleh Pendidikan Sejarah. Dari tendangan kedua PAK mereka berhasil mencetak gol sedangkan untuk Pendidikan Sejarah bola berhasi ditangkap oleh kiper dari PAK. Untuk kedua kalinya Pendidikan Sejarah harus kehilangan gol ditendangan kedua yang dilakukan oleh Oive. Untuk tendangan penentuan dpenendang terakir diawali oleh PAK. Dalam tendangan terakir PAK berhasil memasukan bola dan secara otomatis membawa PAK mejadi juara DPMU CUP dan Pendidikan Sejarah hanya mampu memperoleh juara dua.
Pendidikan Sejarah memang mendapat hasil yang kurang memuaskan dalam pertandingan final, namum semangat suporter yang diluar mampu menjadi penyemangat bagi para pemain yang merasa sngat kecewa atas kekalahannya. Suporter dari Pendidikan Sejarah tiada henti bernyanyi untuk mendukung teman-teman yang ada ditengah lapanga walaupun harus mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. “kita dipertandingan ini walau kalah tetapi saya merasa puas karena permainan kita sangat bagus” itulah kata-kata yang dikeluarkan oleh Olive untuk menyemangati teman-temannya supaya melupakan kekalahan. Walaupun Pendidikan Sejarah mengalami kekalahan namun semangat kalian di dalam dan di luara lapangan sudah sangat mencerminkan seorang juara sejati. “Juara bukan dibuktikan dengan kemenangan, tetapi juara dibuktikan dengan kerja keras kita tiada henti sampai titik penghabisan”.
“kalah menang gak peduli yang penting damai dihati”

FORZA HISTORYA”
HISTORY EDUCATION EST-1955

Penulis : Ignatius Yuliyanto Putro
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2011